<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>Mindsteps of Mindologist</title>
	<link>http://mindologist.blogsome.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Thu, 05 Jun 2008 05:38:17 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Banci Sertifikat</title>
		<link>http://mindologist.blogsome.com/2008/04/15/15/</link>
		<comments>http://mindologist.blogsome.com/2008/04/15/15/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 05:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Mind Blogging</category>
		<guid>http://mindologist.blogsome.com/2008/04/15/15/</guid>
		<description><![CDATA[	Dengan segitu berjibunnya pelatihan pengembangan diri -mulai dari hipnotisme, NLP, Peak Performance, Timeline, EFT,&nbsp;dsb- yang menawarkan terobosan baru, mereka selalu memberi sejenis sertifikasi dalam barisan umpan-umpan penggiurnya. Mulai dari yang bersifat lokal, nasional, bahkan sampai internasional. Adalah kebanggaan tersendiri ketika bisa melihat nama kita tertera di atas kertas legitimasi seperti itu, lengkap dengan tanda tangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Dengan segitu berjibunnya pelatihan pengembangan diri -mulai dari hipnotisme, NLP, Peak Performance, Timeline, EFT,&nbsp;dsb- yang menawarkan terobosan baru, mereka selalu memberi sejenis sertifikasi dalam barisan umpan-umpan penggiurnya. Mulai dari yang bersifat lokal, nasional, bahkan sampai internasional. Adalah kebanggaan tersendiri ketika bisa melihat nama kita tertera di atas kertas legitimasi seperti itu, lengkap dengan tanda tangan trainer yang bersangkutan.</p>
	<p>Tapi berapa banyak orang yang pernah berpikir, &quot;Apakah ini benar-benar berguna bagi keahlian saya? Jika sertifikat itu hilang, rusak, terbakar, dan lembaga pemberi sertifikat itu bubar, apakah itu berarti pengetahuan yang saya pelajari ikut hilang dan bubar?&quot;<a id="more-15"></a></p>
	<p>Berdasarkan pengamatan, sertifikat seperti itu biasanya tidak lebih dari sekedar jimat peledak ego saja. Sama seperti mahasiwa yang rajin memfotokopi materi kuliah dan seluruh kisi-kisi ujian yang ujung-ujungnya tidak pernah dibaca juga. Istilah mereka, &quot;Ah, asal udah punya, rasanya aman dan bisa.&quot;</p>
	<p>Sertifikat = Jimat = Ego-boost =&gt; Percaya diri</p>
	<p>Dalam dunia self development, rasa kepercayaan diri memang selalu menjadi fokus utama. Demikianlah orang berbondong-bondong menjadi trance-buyer untuk segala sesuatu yang menjanjikan sertifikat, tidak peduli harus membayar sangat mahal demi mendapatkannya. Malah untuk beberapa orang, semakin tinggi biaya sebuah pelatihan, semakin kredibel dan bergengsi sertifikat yang akan didapatkan.</p>
	<p>Hal itu membawa pada formulasi mengerikan berikut ini:</p>
	<p>Sertifikat =&gt; Rasa percaya diri =&gt; Ilusi kompentensi</p>
	<p>Yup, itulah yang dijual oleh kebanyakan training groups.&nbsp;Setiap iklan yang dibuat disusun&nbsp;sedemikian rupa untuk memicu pemikiran konsumen, &quot;Masa sih pelatihan bersertifikat internasional begini ngga bisa bikin saya sangat kompeten menggunakan pengetahuan yang dipelajari? Mereka terlihat mahir, pasti saya juga akan jadi mahir.&quot; </p>
	<p>Saya tidak akan berdebat, ya Anda pasti akan jadi mahir.</p>
	<p>Mahir menipu diri dengan selembar kertas dengan bercak tinta&nbsp;yang mengaku-aku bahwa Anda telah berkompeten di bidangnya.</p>
	<p>Tidakkah sertifikat itu malah berasa ejekan bagi intelektualitas Anda? Siapa saja di dunia ini tahu kita tidak bisa instan mahir menguasai sesuatu setelah menyelesaikan pelatihan satu hari, tiga hari, satu minggu, etc. Sertifikat itu kurang lebih berteriak, &quot;Wahai pemilik dan siapapun yang baca sertifikat ini, nama orang yang tertulis di sini sudah menyelesaikan pelatihan. Belum tentu berkualitas sih, makanya dia butuh lisensi seperti ini untuk ngebantu rasa percaya dirinya. Tolong percaya aja ya sama kualitasnya dia, kasihan kan kalo sudah bayar mahal-mahal tapi tetap merasa tidak kompeten.&quot;</p>
	<p>Menggelikan.</p>
	<p>Itu sebabnya bagi saya pribadi, saya percaya pada formula berikut:</p>
	<p>Sertifikat = Jaring praktek yang aman = Moral-boost =&gt; Rasa tanggung jawab</p>
	<p>Berapa banyak pelatihan tersebut yang pernah mengangkat tema tentang hal di atas? Jangankan membahas, menyebut kata &#8216;moral&#8217; dan &#8216;tanggung jawab&#8217; saja sepertinya sangat jarang terjadi.&nbsp;Yang penting mereka berhasil membuat Anda MERASA lebih pintar, lebih berpengalaman, dan lebih percaya diri dengan selembar kertas jimat putih bertorehkan nama Anda, apalagi jika bisa memperpanjang nama Anda dengan sebutan gelar-gelar tertentu di belakangnya. </p>
	<p>Perhatikan bahwa formula saya di atas sama sekali tidak terhubung dengan kompetensi. Keahlian Anda sama sekali tidak ada hubungannya dengan kertas najis itu! Keahlian Anda selalu berbanding lurus dengan frekuensi dan kreatifitas Anda mengembangkan pengetahuan yang sudah dipelajari. Berhentilah jadi banci sertifikat, Anda akan terlihat seperti anak kecil yang selalu mencari perhatian dan pengakuan atas apapun yang dia lakukan.</p>
	<p>Orang dewasa akan berfokus pada kesempatan untuk mempelajari-mempraktekkan pengetahuan sesering mungkin, dan membiarkan urusan mengejar sertifikasi kepada ribuan bocah-bocah yang haus validasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mindologist.blogsome.com/2008/04/15/15/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Demonstrasi Bohlam Lampu</title>
		<link>http://mindologist.blogsome.com/2008/04/04/demonstrasi-bohlam-lampu/</link>
		<comments>http://mindologist.blogsome.com/2008/04/04/demonstrasi-bohlam-lampu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Apr 2008 13:21:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Mind Blogging</category>
		<guid>http://mindologist.blogsome.com/2008/04/04/demonstrasi-bohlam-lampu/</guid>
		<description><![CDATA[	Jika Anda cukup sering mengikuti seminar-seminar motivasi, kemungkinan besar pernah melihat demonstrasi mengubah mind set dengan permainan memecahkan selembar keramik dengan lampu bohlam yang dijatuhkan setinggi badan. Biasanya peserta diminta untuk melakukan visualisasi, menanamkan pikiran bahwa bohlam itu seberat 2 ton. 
	Alhasil ketika dilepaskan dengan bagian kaca yang di bawah (bukan pantat gagang logam), keramik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Jika Anda cukup sering mengikuti seminar-seminar motivasi, kemungkinan besar pernah melihat demonstrasi mengubah mind set dengan permainan memecahkan selembar keramik dengan lampu bohlam yang dijatuhkan setinggi badan. Biasanya peserta diminta untuk melakukan visualisasi, menanamkan pikiran bahwa bohlam itu seberat 2 ton. </p>
	<p>Alhasil ketika dilepaskan dengan bagian kaca yang di bawah (bukan pantat gagang logam), keramik pecah dengan ajaib. Beberapa guru dan motivator mengarahkan fenomena tersebut sebagai kekuatan pikiran. Beberapa menjelaskannya sebagai LOA dan kepercayaan korporat. Sampai akhirnya timbul pertanyaan di sebuah mailing list NLP&nbsp;yang berbunyi demikian, &quot;Ada penjelasan lainnya? Saya terus terang penasaran, kenapa bisa yah seperti mentransfer energi, dimana bohlam yang sangat tipis tersebut bisa jadi lebih kuat daripada keramik tebal?&quot;</p>
	<p>Anda punya pertanyaan yang serupa?<a id="more-14"></a></p>
	<p>Well, kemanapun Anda melangkah, jawaban penjelasan atas pertanyaan Anda tersebut hanya akan bisa membuktikan presuposisi yang sudah terlebih dahulu Anda selipkan ke dalamnya. Jika penasaran selalu menjadi rumus awal dari penemuan pengetahuan baru, tanyakan pada para pecandu narkoba bagaimana mereka sekarang merasa lebih bebas, tercerahkan, sehat dan bahagia semenjak beberapa tahun yang lalu mereka berhadapan dengan Jl. Penasaran di Kompleks Ingin Tahu.<br />&nbsp;<br />Jadi jika memang ingin penasaran, jangan tanggung-tanggung. Bayangkan pengetahuan apa yang bisa Anda dapatkan ketika Anda berhenti sekarang dan mengambil satu langkah ke belakang, melihat diri Anda sendiri yang sedang mengajukan pertanyaan tersebut, dan menilai seberapa jauh Anda butuh mendengar apa yang Anda inginkan agar penjelasan itu cukup memiliki momentum untuk mampu mendorong Anda butuhkan pada titik yang resourceful. Seberapa besar Anda menginginkan sebuah outcome sampai Anda bersedia mempercayai apa saja yang perlu (dan tidak perlu) Anda percayai demi mencapai tujuan tersebut?<br />&nbsp;<br />Beberapa puluh dekade yang lalu dunia kedokteran sempat menemukan penjelasan yang memuaskan dan empiris bahwa para pasien sakit jiwa akan dapat disembuhkan dengan cara mengebor, melubangi kepala mereka agar roh jahat atau energi yang menganggu dapat menemukan jalan keluar. Ketika seseorang, Arif, ingin menjadi cerdas dalam tatanan keilmiahan dan mengetahui jawaban bagaimana sebuah apa menciptakan mengapa, jelas NLP (ataupun NLPers) bukanlah tempat yang tepat untuk mengakomodasi outcome tersebut. Sebaliknya, Anda ingin ingin MERASA cerdas dalam tatanan PERASAAN keilmiahan dan MEMPERCAYAI bagaimana sebuah apa menciptakan mengapa, maka Anda sudah berada di jalan yang benar karena NLP melulu tentang &quot;subjective experience&quot; demikian kata para developer &#8216;ilmu kanuragan&#8217; ini. <br />&nbsp;<br />Manusia cenderung hanya bisa melihat, mendengar, menemukan apa yang ingin dia lihat, dengar, dan temukan. Anda ingin menikmati sepenuhnya dari apa yang NLP tawarkan? Jangan bertanya tentang MENGAPA, sobat, karena itu adalah sebuah DOSA YANG BESAR jika Anda berada di komunitas NLP seperti ini. Nikmati saja setiap mantera BAGAIMANA yang ditawarkan, buang jauh-jauh akal sehat Anda dan rendam diri Anda dalam macam-macam larutan delusi yang ditawarkan para tukang obat kepada Anda. Oh ya, jangan lupa mengucapkan selamat jalan kepada beberapa sel logika yang masih tersisa di kepala Anda, karena mungkin Anda tidak akan bertemu dengan mereka lagi untuk waktu yang cukup lama. </p>
	<p>Jadi jika bertanya pada kalangan NLPers dan hypnotists,&nbsp;kemungkinan besar Anda merasa dipuaskan tanpa menerima jawaban yang seharusnya Anda cari. Kebetulan saya memiliki sebuah arsip jawaban memuaskan yang LAYAK Anda terima atas usaha kritis tersebut. Ditulis oleh seseorang bernama Widyarso, demikian&#8230;</p>
	<blockquote><p>Bohlam bening ukuran besar beratnya antara 0.022 &ndash; 0.026 kg, yang ukuran kecil beratnya 0.016 kg. Keramik biasanya digunakan ukuran 10x20 cm, ketebalan standar (dalam berbagai kelas kualitas keramik, I hingga III).</p>
	<p>Kalau Anda juga ingin mencoba, coba ganti bohlam dengan benda padat yang keras permukaannya, dan beratnya kurang lebih sama dengan bohlam. Paling mudah dan murah beli saja kapur barus bulat untuk urinoir, biasanya beratnya berkisar 0.030 kg. Jatuhkan bebas, dari ketinggian 1 meter sudah cukup. Yang terjadi adalah keramik patah, artinya berat bohlam cukup untuk mematahkan keramik tersebut dari ketinggian 1 meter. Dalam case di atas, penjelasannya bisa jadi adalah murni issue mekanika/fisika.</p>
	<p>Hanya saja, kami juga sempat mengamati ada beberapa temuan yang belum terjelaskan. Ini dari hasil pengamatan saya pada seribuan peserta di workshop PPM.</p>
	<p>Antara lain adalah :</p>
	<p>1.&nbsp; Rekor ketinggian bohlam yang menyebabkan keramik patah hanya dari : 45cm (jatuh bebas vertikal). Hal ini sudah dicoba dengan bola massive (sebagai pengganti bohlam), namun belum pernah berhasil mematahkan keramik dari ketinggian hanya 45cm (kondisi jatuh bebas).</p>
	<p>2.&nbsp; Peserta yang bisa mematahkan keramik dengan bohlam dari ketinggian hanya 45cm berusia di atas 70 tahun (mungkin suatu kebetulan?)</p>
	<p>3.&nbsp; Pernah terjadi rekor bohlam dijatuhkan (ke lantai keras) tanpa pecah dari ketinggian 3.5 meter sebanyak 7 kali berturut-2 (dengan 1 bohlam yang sama).</p>
	<p>4.&nbsp; Profesi berbeda&nbsp;menjadikan success rate peserta berbeda? Dari berbagai inhouse workshop, success rate berbeda secara signifikan dalam berbagai profesi/industri dari peserta. Sebagai contoh kami mendapati success rate peserta ekstrim tinggi saat meng-conduct workshop di perusahaan konstruksi, dan cukup rendah di perusahaan berkaitan dengan finance (misal : asuransi).</p>
	<p>5. Visualisasi berbeda&nbsp;menjadikan hasil berbeda? Peserta yang sama, bohlam yang sama, ketinggian yang sama, namun dengan visualisasi yang berbeda diamati hasilnya berbeda. Misal dengan visualisasi palu besi gagal, diganti dengan martil jadi berhasil. Atau visualisasi martil gagal, diganti dengan martil berduri (seperti senjatanya gladiator) jadi berhasil. Bahkan pengalaman saya sendiri saat sharing kepada LSM-2 di Manila, ada peserta (dengan visualisasi khusus) mampu mematahkan keramik ukuran 40x40 cm kualitas I, dengan bohlam (dijatuhkan bebas). Sekedar untuk menggambarkan kerasnya keramik tersebut (setelah saya lakukan test sederhana), keramik tersebut tidak patah meski setengahnya diinjak oleh orang dewasa (berat &gt; 90kg), dilakukan di tangga di mana setengah bagian keramik lainnya diinjak/ditahan oleh 2 orang.</p>
	<p>6. Visualisasi bisa &rsquo;terlihat&rsquo; ? Dalam suatu sesi, seorang peserta mem-visualisasikan bohlam sebagai bola boling, dan seorang peserta lain secara spontan &rsquo;mengetahui&rsquo; bahwa yang divisualisasikan adalah bola boling. Untuk suatu kebetulan, mungkin probabilitasnya sangat kecil.</p>
	<p>Sepertinya &rsquo;permainan&rsquo; bohlam tersebut masih menyimpan beberapa misteri (secara science) atau mungkin anomali. Sebenarnya masih terbuka sangat luas, ladang kajian yang bisa dilakukan pada banyak permainan semacam. After all, sebenarnya permainan bohlam tersebut lebih difungsikan sebagai trigger untuk self-confidence dalam aplikasi afirmasi dan visualiasi.</p>
	<p>Sebagaimana permainan lainnya seperti cuci muka dengan air keras, jalan di atas beling, fire-walking, membuka dasar botol, menusuk kentang dengan sedotan, mematahkan besi dengan kertas, memutar pensil dengan pandangan mata, dll dsb. Tujuan utama bukan keberhasilan dalam permainannya, tetapi melejitnya self-confidence peserta sehingga mereka believe pada tools (kondisi tenang + afirmasi + visualisasi) dan bersemangat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.</p></blockquote>
	<p>Bagaimana, merasa lebih cerah? <img src='http://mindologist.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mindologist.blogsome.com/2008/04/04/demonstrasi-bohlam-lampu/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Seni Memperkosa Pemerkosa</title>
		<link>http://mindologist.blogsome.com/2008/03/29/seni-memperkosa-pemerkosa/</link>
		<comments>http://mindologist.blogsome.com/2008/03/29/seni-memperkosa-pemerkosa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 05:24:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Mind Blogging</category>
		<guid>http://mindologist.blogsome.com/2008/03/29/seni-memperkosa-pemerkosa/</guid>
		<description><![CDATA[Saya sangat menyukai <em>storytelling</em>. Saya senang merasa santai, membawa orang terhanyut ke dalam apa yang ingin saya sampaikan, melepaskan pilihan apakah mereka ingin terhisap masuk ke dalam pusaran pesan yang disampaikan, atau sekedar berselancar ringan di atas riak ombak cerita yang berbuih-buih.

Entah mengapa jika berbicara tentang <em>storytelling</em>, saya langsung terbayang dengan terutama lautan. Padahal sebenarnya saya takut dengan tebaran air yang luas karena tidak tahu caranya berenang dan dibayang-bayangi imajinasi tenggelam masuk ke kedalaman air dimana saya hanya bisa sendirian, sunyi, dan tidak mendengarkan apa-apa selain cahaya sinar yang terbias menembus permukaan air, masuk menerangi pupil saya yang terasa agak sensitif.

Bulatan matahari jadi terlihat jauh sangat besar bila Anda melihatnya dari dalam air di tingkat kedalaman tertentu. Semakin dalam, semakin jauh, semakin membesar. Seolah-olah Anda memakai lup yang didorong menjauh-mendekat dari lensa mata Anda sampai akhirnya bisa mendapatkan satu titik fokus yang tepat. Satu titik penglihatan membuat Anda merasa nyaman memperhatikan apa yang Anda perlu perhatikan, baik ketika memakai lup untuk membaca sesuatu yang kecil tersembunyi atau menggunakan ketenggelaman Anda di dalam air untuk mengamati indahnya bulatan matahari di atas sana. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img style="float: left; width: 150px" hspace="5" src="http://img181.imageshack.us/img181/4323/vitruvianoj3.gif" width="150" border="0" />Saya sangat menyukai <em>storytelling</em>. Saya senang merasa santai, membawa orang terhanyut ke dalam apa yang ingin saya sampaikan, melepaskan pilihan apakah mereka ingin terhisap masuk ke dalam pusaran pesan yang disampaikan, atau sekedar berselancar ringan di atas riak ombak cerita yang berbuih-buih.</p>
	<p>Entah mengapa jika berbicara tentang <em>storytelling</em>, saya langsung terbayang dengan terutama lautan. Padahal sebenarnya saya takut dengan tebaran air yang luas karena tidak tahu caranya berenang dan dibayang-bayangi imajinasi tenggelam masuk ke kedalaman air dimana saya hanya bisa sendirian, sunyi, dan tidak mendengarkan apa-apa selain cahaya sinar yang terbias menembus permukaan air, masuk menerangi pupil saya yang terasa agak sensitif.</p>
	<p>Bulatan matahari jadi terlihat jauh sangat besar bila Anda melihatnya dari dalam air di tingkat kedalaman tertentu. Semakin dalam, semakin jauh, semakin membesar. Seolah-olah Anda memakai lup yang didorong menjauh-mendekat dari lensa mata Anda sampai akhirnya bisa mendapatkan satu titik fokus yang tepat. Satu titik penglihatan membuat Anda merasa nyaman memperhatikan apa yang Anda perlu perhatikan, baik ketika memakai lup untuk membaca sesuatu yang kecil tersembunyi atau menggunakan ketenggelaman Anda di dalam air untuk mengamati indahnya bulatan matahari di atas sana.<a id="more-1"></a> </p>
	<p>Lup adalah benda yang sangat berguna, sebagaimana yang saya ceritakan ketika beberapa waktu yang lalu saya mendapat kesempatan menyampaikan sebuah metafora kepada sejumlah sahabat dan rekan yang sedang mendalami NLP. Seperti yang biasa saya lakukan dalam nyaris apa saja dalam hidup ini, saya selalu menantang diri untuk melakukan lebih dari sekedar diminta. Tujuan utamanya adalah untuk melihat seberapa jauh saya bisa meregangkan diri di luar batas-batas normal, disusul dengan sasaran agar audiens mendapatkan sesuatu yang lebih bermakna daripada yang mereka harapkan.</p>
	<p>Dini hari sebelumnya, saya menghabiskan waktu cukup lama untuk memikirkan apa yang akan saya presentasikan kepada mereka. Menurut kamus Webster, metafora adalah gaya bahasa berisi cerita narasi dan perumpamaan yang dipakai untuk menyampaikan sebuah nilai moral atau pesan tersendiri. Dengan demikian, NLP menganggap metafor sebagai alat yang sangat berguna untuk menghantarkan pesan yang diinginkan tanpa perlu melalui saringan filter logis yang ketat dari para pendengarnya. </p>
	<p>Dari sekian tantangan yang ada, salah satu tantangan terbesar adalah fakta bahwa saya akan memakai salah satu tehnik NLP kepada sekelompok penghuni bumi yang sudah cukup memahami seluk beluk ilmu NLP. Bukan hal yang mudah karena mereka kemungkinan sudah mengetahui nyaris semua cerita, analogi, <em>folklore</em>, dan fabel yang ada di luar sana, karena mereka juga berprofesi sebagai orang-orang bijak, <em>trainer</em>, totem dan vampir di industri <em>human-development</em>.</p>
	<p>Itu sebabnya, ini saya seperti hendak memperkosa para pemerkosa. Etiskah menyerang sesama penyerang dengan serangan-serangan yang sudah sering mereka gunakan dalam peperangan?</p>
	<p>Saya menyukai berdialog dengan para ekstrimis agama. Mereka selalu merasa dirinya memiliki pengetahuan yang sangat spesial sehingga berani menilai dan menghakimi orang lain berdasarkan interpretasi atas kitab-kitab yang sudah ribuan tahun usianya, bahkan para penulisnya pun mungkin sudah lupa mengapa mereka menuliskan apa yang mereka sudah tuliskan di sana. Setiap kali orang-orang tersebut melemparkan penghakiman berdasarkan ayat-ayat suci, saya langsung terbayang Tuhan menepuk jidat-Nya sendiri dan para nabi-nabi bersumpah serapah karena itu sama sekali bukan maksud mereka. </p>
	<p>Itu sebabnya menurut saya ide tentang debat inter-agama (apalagi antar-agama!) adalah sesuatu yang bodoh. Jangankan lawan bicaranya, Tuhan sekalipun jika melangkah dari surga untuk memberikan lup ilahi yang mencerahkan arti sebenarnya dari sebuah paragraf di sebuah kitab, rasanya tidak akan menggetarkan masing-masing pihak. Malah mungkin akan semakin memperkeras karena mereka curiga pihak lawan sedang menggunakan ilmu-ilmu gelap untuk menggelapkan apa yang tidak boleh digelapkan.</p>
	<p>Berhenti sekarang, sobat, hindari meneruskan kebodohan tersebut. Kita tidak bisa menyerang penyerang kita dengan alat perang yang mereka gunakan untuk menyerang kita. Itu tidak akan membawa kita kepada apapun selain rasa frustasi karena ketidakmampuan menyarangkan pesan yang ingin disampaikan ke kandang lawan.</p>
	<p>Bagaimana caranya seorang bocah jalanan kemaren sore seperti saya dapat menyampaikan sebuah metafor yang efektif untuk menembus seluruh baju zirah besi (berkarat) yang dipakai oleh para pendengar saya? Tentu saja mereka tidak mau terlihat bodoh dengan belajar dari ringkihan kemabukan seekor kuda muda yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka. Bukan saja sudah jauh lebih tua, tapi mereka juga sangat memiliki pengetahuan yang sangat kompeten dibandingkan dengan saya.</p>
	<p>Jika saya menyampaikan sebuah metafor yang terlalu cerdas, mereka akan jelas-jelas menolak pesannya karena tidak ingin merasa bodoh sampai harus belajar dari anak kampung. Jika saya menyampaikan sesuatu yang terlalu biasa-biasa, mereka juga akan menolaknya karena merasa sudah sering dengar. </p>
	<p>Ketika jam dinding memicingkan matanya di menit keempat-puluh lewat dini hari itu, saya akhirnya menemukan sebuah strategi yang prima. Saya bukan pribadi yang ingin membuat Anda terus tersiksa sepanjang hari memikirkan strategi yang saya temukan setelah membaca semua ini. Saya akan membagikannya dengan jelas sehingga Anda dapat melakukannya persis sebagaimana saya merencanakannya di hari tersebut. Tapi setelah saya pikir-pikir, justru bila dibagikan dengan gamblang seperti inilah Anda akan dihantui mengapa Anda perlu mempraktekkannya dan kapan Anda perlu menciptakan kesempatan untuk memakainya. Silakan melanjutkan, resiko ditanggung sendiri. </p>
	<p>Strategi tersebut saya namakan <em>metawhoring</em>, sebuah leksikon baru yang saya ciptakan dari kata &lsquo;meta&rsquo; dan &lsquo;whore&rsquo;. Secara singkat, Anda akan melacurkan segala sesuatu yang Anda ucapkan (<em>verbal</em>) dan lakukan (<em>non-verbal</em>) kepada tujuan yang serba-kontradiktif agar memancing sebanyak mungkin impresi yang berbeda di representasi internal pendengar Anda. Mari gandeng tangan saya sembari kita turun mengamati kesepuluh tips satu per satu.</p>
	<p>Sepuluh, tuntun mereka masuk ke <em>state </em>yang Anda inginkan dengan cara lebih dahulu berada di sana. Dalam hal ini, pilihan yang terbaik adalah masuk ke dalam titik <em>state </em>paling rileks, tidak menunjukkan bahwa Anda memiliki apa-apa untuk dibicarakan. Semakin Anda merasa audiens menunggu untuk menyimak (dan membantah dalam hati!) apa yang akan Anda sampaikan, semakin Anda menunjukkan bahwa Anda justru tidak tahu harus menyampaikan apa.</p>
	<p>Jangan lakukan tindakan <em>mirroring </em>apapun karena besar kemungkinan justru itulah yang mereka ingin Anda lakukan (agar mereka dapat berkata dalam hati, &ldquo;Nah, persis saya duga!&rdquo;). Justru sebaliknya, biarkan bahasa tubuh Anda jatuh dan lepas, tidak mempedulikan benang <em>rapport </em>yang terputus dari audiens. Minimalisasikan gerakan tubuh Anda, biarkan setiap otot tubuh mengendur, dan tarik nafas yang dalam sembari Anda meluncur dengan cepat ke level alfa.</p>
	<p>Gunakan <em>channel verbal</em> Anda untuk menceritakan hal-hal yang tidak perlu diceritakan sambil Anda berusaha melakukan <em>pacing </em>pada audiens. Lakukan sesantai mungkin, sekaligus semencurigakan mungkin. Kata kuncinya adalah paradoks. Anda ingin memicu pendengar Anda untuk memutar piringan audio internal mereka sendiri, sembari Anda menuntun mereka langkah demi langkah menuju level alfa yang signifikan. Gunakan visi periferal Anda untuk memperhatikan kapan mereka melakukan TDS, dan bila itu terjadi, lakukan <em>anchoring</em> dengan menarik nafas yang dalam, lalu ulangi setiap kali Anda merasa memerlukannya. Bila Anda melakukannya dengan tepat, maka dalam dua-tiga menit awal itu, Anda akan membuat mereka <em>trance</em> terpaku pada kursi mereka masing-masing. </p>
	<p>Sembilan, karena mereka kemungkinan akan menolak apapun konten yang disampaikan, jangan berikan kemewahan tersebut kepada mereka. Mulai presentasi Anda dengan visualisasi konteks (atau <em>staging and delivery</em>) sebanyak mungkin yang sama sekali tidak memiliki isi metafor yang sebenarnya, sehingga satu-satunya konten yang pendengar Anda dapatkan adalah apa yang mereka pikir mereka akan dengar. Dengan kata lain, Anda memberikan basa-basi tentang mengapa Anda memilih mau bercerita apa yang akan Anda ceritakan, dengan menggunakan kalimat yang berbunga-bunga.</p>
	<p>Delapan, pancing mereka untuk terbiasa nyaman (baca: <em>trance</em>) dengan kecurigaan mengapa Anda melakukan ini-itu sampai akhirnya yakin (baca: <em>trance </em>lebih dalam lagi!) pada satu kesimpulan bahwa Anda tidak memiliki kompentensi seperti yang mereka harapkan (atau takutkan). Picu resistensi (yang Anda sengaja inginkan) agar mereka cukup disibukkan dan tidak merasa perlu untuk menciptakan resistensi pribadi. Ini adalah titik krusial yang akan memastikan audiens menurunkan filter defensif mereka dari pesan yang ingin Anda sampaikan. </p>
	<p>Kerahkan seluruh kemampuan akting Anda untuk menciptakan banyak sekali ketidaksengajaan kecanggungan yang disengaja ketika menceritakan metafor atau pesan yang diinginkan, mulai dari pelafalan yang kurang sempurna, <em>eye accessing cues</em> yang aneh, dan struktur kalimat yang kurang masuk akal, bahkan cenderung mengarah ke sentilan ala Milton Model. Tapi ada dua hal yang wajib Anda jaga dengan baik, yakni <em>tone</em> suara dan bahasa tubuh yang sangat persuasif. Selain kedua hal tersebut, apapun yang memancar dari tubuh Anda harus membuat Anda tampak tidak siap, bingung, dan tidak perlu dianggap serius. </p>
	<p>Anda ingin alam sadar pendengar Anda terbebani dengan begitu banyak kemungkinan <em>nested loops</em>, <em>conflicting data and possibilities</em>, sehingga Anda bisa leluasa memperkosa pikiran bawah sadar mereka dengan pesan-pesan yang diinginkan. Bila periode itu sudah hadir, segera ubah gaya presentasi Anda menjadi dua kali lebih persuasif daripada sebelumnya, dua kali lebih penuh animasi, dua kali lebih tajam sorotan tatapan matanya, serta dua kali kali lebih keras volume suaranya. </p>
	<p>Tujuh, gunakan gaya bahasa instruktif ketika menyampaikan apa yang seolah-olah kunci yang Anda ingin sampaikan. Prinsip dalam <em>metawhoring </em>adalah Anda ingin melacurkan begitu banyak pesan dan merekamnya di pita memori mereka, bukannya sekedar satu pesan saja. Biarkan mereka merasa Anda ingin mengajarkan pesan (misalnya) nomor enam, padahal Anda ingin mengajarkan alam bawah sadar mereka dengan pesan nomor lima, empat, tiga, dan dua. Bila memang dimungkinkan, pecah menjadi poin-poin atau langkah yang unik. Anda juga dapat menggunakan bahasa asing atau <em>jargon </em>tertentu untuk menciptakan efek impresi yang lebih kuat pada memori audiens. </p>
	<p>Ketika presentasi Anda selesai, mereka akan selama bertahun-tahun terus menyimpan rekaman metafor yang Anda sampaikan, bahkan sering menggunakannya untuk keperluan mereka pribadi. Mereka akan merasa seolah-olah mereka sendiri yang menemukan <em>keypoints</em> tersebut, padahal Anda-lah yang sebelumnya telah &lsquo;menarik, melatih, dan menunggangi mereka berulang-ulang.&rsquo; </p>
	<p>Satu, seluruh sistem strategi yang saya kembangkan ini bisa dibilang sangat efektif untuk menghadapi para praktisi NLP karena berangkat dari presuposisi <em>metawhore</em> bahwa &ldquo;people always cum with solutions.&rdquo; Ketika berhadapan dengan para NLPer, ijinkan (baca: korbankan) diri Anda untuk terlihat terbatas, lucu, bodoh, atau canggung agar mereka bisa menggembungkan dada ketika merasa sampai pada pelajaran, <em>keypoint</em>, atau <em>insight</em> apapun atas dasar kehebatan mereka sendiri. Berbesarhatilah ketika mereka tidak tidak menaruh kredit apapun kepada Anda maupun metafora asli yang Anda kendarai, karena pada akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan Anda juga puas berhasil memperkosa seluruh otak-otak karatan yang &lsquo;sok pintar dan dewasa itu.&rsquo;</p>
	<p>Tentu saja Anda tidak perlu merepotkan diri menggunakan <em>metawhor</em>e jika kebetulan memang audiens Anda masih terasa cukup permisif, bersahabat, atau lebih junior secara usia daripada Anda. Justru <em>metawhoring</em> biasanya kurang efektif dilakukan jika Anda berbicara dengan non-NLPer karena mereka, sama seperti saya, tidak bisa berenang, apalagi menenggelamkan diri dalam lautan dialog internal. Berselancar masih mungkin, karena pelukan hembusan angin di permukaan rasanya mampu mengalahkan rasa takut saya terhadap kedalaman air biru tersebut.</p>
	<p>Pernahkah saya bercerita tentang pengalaman ketika speedboat yang saya dan teman-teman naiki mendadak berhenti di tengah lautan tanpa sebab, hanya warna biru sejauh mata memandang, tidak ada satu pulau pun tampak dari arah manapun, dan sekonyong-konyong melihat ombak besar bergulung dengan jarak sekitar 300 meter dari kami? </p>
	<p>Ah, simpan saja untuk kesempatan lainnya. Saya tidak ingin Anda terlalu menikmati pemerkosaan ini.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mindologist.blogsome.com/2008/03/29/seni-memperkosa-pemerkosa/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Menangani Migraine</title>
		<link>http://mindologist.blogsome.com/2008/03/22/menangani-migraine/</link>
		<comments>http://mindologist.blogsome.com/2008/03/22/menangani-migraine/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Mar 2008 06:38:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Mind Blogging</category>
		<guid>http://mindologist.blogsome.com/2008/03/22/menangani-migraine/</guid>
		<description><![CDATA[	Pagi ini seorang teman bercerita tentang rasa pusing yang menyerangnya tiba-tiba ketika sampai di kantor. Sembari mengobrol dan berusaha membantunya, saya teringat akan sakit migraine yang dahulu sempat rutin mengunjungi kepala setiap bulannya. Jika ada rasa sakit yang paling saya benci di dunia, maka itu adalah Migraine. 
	Teman saya di atas bukan terkena migraine. Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img style="float: left" alt="migraine" hspace="5" src="http://truegossiper.blogsome.com/images/migrainesick.jpg" width="150" vspace="5" border="0" />Pagi ini seorang teman bercerita tentang rasa pusing yang menyerangnya tiba-tiba ketika sampai di kantor. Sembari mengobrol dan berusaha membantunya, saya teringat akan sakit migraine yang dahulu sempat rutin mengunjungi kepala setiap bulannya. Jika ada rasa sakit yang paling saya benci di dunia, maka itu adalah Migraine. </p>
	<p>Teman saya di atas bukan terkena migraine. Tapi dia memicu saya untuk menulis sejumlah tips menangani migraine sebelum dan sesudah ia mendarat di sisi kening Anda. Mencegah selalu lebih baik dari mengobati, dan jika Anda tidak pernah mengalami migraine, kecil kemungkinan Anda benar-benar menghargai pernyataan itu.<a id="more-9"></a> </p>
	<p>Apa itu migraine? Sejauh ini masih belum diketahui asal-usulnya yang jelas, tapi setidaknya kita dapat mengenalinya dari beberapa ciri khas sebagai berikut:</p>
	<p>&bull; rasa sakit akut pada satu sisi kepala, beragam durasi mulai dari 3 jam hingga satu dua hari. Kata &lsquo;migraine&rsquo; sendiri memiliki afiliasi dengan bahasa Yunani &lsquo;hemicranios&rsquo; yang berarti &rsquo;setengah kepala.&rsquo;<br />&bull; rasa mual, yang kadang diikuti juga dengan muntah.<br />&bull; sensitifitas tinggi terhadap cahaya dan suara.</p>
	<p>Setiap penyakit selalu memiliki faktor pemicu, demikian juga dengan migraine. Jika Anda merupakan langgananya, maka coba kenali faktor-faktor tersebut. </p>
	<p>Faktor emosi dan stress bisa muncul dari beban pekerjaan yang mendadak menumpuk, tekanan dari hubungan romansa, dan faktor fisik lingkungan seperti terlalu bising, pengap, atau ramai. Lakukan manajemen stress yang baik, dan Anda sudah mengurangi beberapa belas persen dari kemungkinan migraine menyerang. </p>
	<p>Faktor lainnya adalah makanan. Beberapa orang cukup perlu melewatkan jadwal makannya sekali untuk mengijinkan tubuh mengirimkan reaksi migraine, beberapa lainnya tidak sesensitif itu. Kurangi konsumsi minuman yang mengandung kafein (termasuk <em>decaff coffee</em>) dan soda, makanan dengan penambah warna dan cita rasa, makanan kalengan, kacang, coklat, rokok (walaupun hanya perokok pasif) dan alkohol. </p>
	<p>Untuk wanita, migraine sering berhubungan dengan faktor siklus menstruasi, ini didukung dari sejumlah penelitian yang menyebutkan wanita yang sudah mencapai usia menopause tidak lagi mengalami migraine.</p>
	<p>Lalu apa yang Anda lakukan bila migraine menyerang? Ketahuilah bahwa 15-20 menit sebelum rasa sakit itu muncul, migraine umumnya didahului dengan gejala khusus, seperti pandangan yang silau, berkunang-kunang, kelopak mata tertekan dan berdenyut-denyut, dan leher pegal. Bila gejala-gejala ini muncul saling terkait, segera berhenti dari aktifitas yang Anda dilakukan dan menyepilah ke sebuah ruangan kosong dan gelap untuk beristirahat di sana.</p>
	<p>Anda perlu menenangkan diri. Jantung Anda berpacu dengan ketakutan dan antisipasi mengalami rasa sakit yang bertubi-tubi, namun Anda harus menyakinkan diri bahwa ia masih dapat dicegah. Saat itu migraine masih jauh di ujung ufuk sana dan bila Anda dapat mengumpulkan ketenangan diri dan beristirahat, badai itu tidak akan datang menghampiri.</p>
	<p>Satu atau dua gelas air putih selalu dapat membuat diri sedikit lebih tenang. Setelahnya Anda beristirahat dalam ruangan tersebut, meminta agar tidak ada yang mengganggu Anda selama setidaknya 1/2 - 1 jam. Jika Anda berada di kantor dan sang boss menanyakan tindakan tersebut, yakinkan bahwa waktu itu tidak ada apa-apanya dibandingkan berjam-jam pekerjaan berantakan karena migraine yang menyerang Anda.</p>
	<p>Saya menyebut ini sebagai proses <em>shutting down</em>. Jika Anda tidak mendapat ruangan, ini dapat dilakukan dalam mobil Anda (tapi ingat jangan lakukan ini dalam keadaan mobil menyala atau Anda akan keracunan karbonmonoksida!) atau pantry di kantor. Sekalipun posisi berbaring jauh lebih baik, Anda dapat mengambil dalam posisi duduk apapun yang dapat membuat tubuh Anda santai, misalnya setengah berbaring dengan sandaran kursi yang dimundurkan ke belakang. </p>
	<p>Lalu beristirahatlah. Jika berhasil melakukan shutting down dengan baik, migraine itu tidak akan menyentuh kepala Anda sedikitpun. Ini semua tergantung dari seberapa sigap Anda bereaksi ketika gejala-gejala awal itu muncul. Seiring waktu, Anda akan semakin cekatan menjinakkan migraine ini sebelum ia benar-benar menunjukkan giginya.</p>
	<p>Sebagai catatan, jangan lupakan untuk berkonsultasi tentang penyakit ini dengan dokter Anda. Mereka adalah sumber yang tepat untuk menangani masalah medis dengan profesional. Informasi yang diberikan di sini bersumber dari pengalaman riset pribadi yang bersifat edukasi dan alternatif, <u>bukan</u> sebagai pengganti dari pengobatan medis apapun. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mindologist.blogsome.com/2008/03/22/menangani-migraine/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Atas Nama Cinta</title>
		<link>http://mindologist.blogsome.com/2008/03/20/atas-nama-cinta/</link>
		<comments>http://mindologist.blogsome.com/2008/03/20/atas-nama-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 06:54:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Mind Blogging</category>
		<guid>http://mindologist.blogsome.com/2008/03/20/atas-nama-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[	Saya ingat beberapa tahun yang lalu Ari Lasso dan Dewa mengadakan konser bareng, sekaligus bentuk afirmasi terhadap massa bahwa mereka masih saling bersahabat (sehubungan Ari yang hengkang dari Dewa untuk bersolo karir), dengan judul Atas Nama Cinta. Tapi kali ini saya tidak hendak ngobrol tentang musik tersebut. Saya hanya sekedar meminjam judulnya saja untuk berbicara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Saya ingat beberapa tahun yang lalu Ari Lasso dan Dewa mengadakan konser bareng, sekaligus bentuk afirmasi terhadap massa bahwa mereka masih saling bersahabat (sehubungan Ari yang hengkang dari Dewa untuk bersolo karir), dengan judul Atas Nama Cinta. Tapi kali ini saya tidak hendak ngobrol tentang musik tersebut. Saya hanya sekedar meminjam judulnya saja untuk berbicara dari hati ke hati tentang perilaku cinta. Mudah-mudahan saya tidak dituntut&hellip;</p>
	<p>Saya tidak perlu memusingkan diri dengan apa itu cinta, atau cinta versus kasih versus asmara, atau ribuan pengertian lainnya yang sering diangkat dalam buku seri Love Sex and Dating, karena saya percaya kamu semua sudah tahu banyak tentang LSD tersebut dan seluk beluknya, mungkin jauh lebih dari saya. Fokus saya bukan pada &lsquo;apa&rsquo; (what), melainkan &lsquo;bagaimana&rsquo; (how). Bila what berbicara tentang definisi, maka how berbicara tentang proses. What berpikir tentang tujuan dari cinta, how mengeksplorasi bahasa cinta. What duduk dan bercerita tentang sifat cinta, how berdiri dan mengijinkannya berbuah.<a id="more-11"></a></p>
	<p><em>Love will bring you back</em>. Cinta akan membawa kamu kembali. Saya tidak bisa memahami pergumulan apa yang sedang kamu alami, tapi cinta pasti mampu memulihkan segala kepenatan yang ada, luka-luka yang tersisa, dan harapan yang terputus dalam sebuah hubungan. </p>
	<p>Ketika melihat seekor induk burung menyodorkan paruh penuh cacing kepada anak-anaknya yang berciap-ciap kegirangan, hati kamu pasti bergetar dengan kehangatan. Kepakan sayap anak-anak burung itu seakan-akan bertepuk merayakan kedatangan seorang pahlawan. Getaran kehangatan yang dirasakan tentu akan berbeda pada setiap pribadi, namun ia selalu ada untuk memberikan kamu cukup dorongan bahwa kamu tidak sendirian. Cukup kepastian bahwa penantian kamu tidak akan sia-sia dan sang harapan akan segera muncul dengan makanan yang lezat di sela-sela paruhnya. Cukup tenaga untuk terus bangkit dan menengadah ke atas. Cukup kekuatan untuk bertahan pada mimpi kamu, bukannya tinggal di kubangan penyesalan dan mengasihani diri. </p>
	<p>Kamu bisa berlari dengan kondisi yang fit dan dinamis. Kedua tangan kamu kembali terentang lebar, siap untuk menghadapi tantangan berikutnya. Perlahan tapi pasti, kamu kembali seperti sediakala, diri kamu yang sempurna. Sadari bahwa cinta itu ada dimana-mana sehingga kamu dapat kapan saja meraihnya demi menjadi prima dalam hubungan kamu. Ingat kapan terakhir kamu berada tinggi di awan-awan karena cinta? Kamu kini bisa kembali ke sana. Love will bring you back.</p>
	<p><em>Love speaks in tongues</em>. Cinta berkomunikasi dalam bahasa-bahasa yang baru. Hendra dianggap pemberontak oleh sang ibu karena memilih berpacaran dengan wanita yang berbeda ras dengannya. Tak terhitung berapa kali Hendra maupun pasangannya itu diterpa dengan kata-kata panas, namun mereka tetap berjalan dengan tenang. Mereka pun tidak berusaha berargumen dengannya. Mereka terus berkomitmen satu sama lain, melewati badai yang rasanya semakin keras tiap hari, hingga sampai waktunya sang ibu terdiam dan mengalah.</p>
	<p>Cinta mereka berbicara dengan teks yang tak terucapkan: kesetiaan. Rani, gadis berusia 18 tahun, harus berpisah dengan kekasihnya yang mendapat tugas wajib militer selama lima tahun. Dengan hati yang sangat berat, Rani memeluk pasangannya itu layaknya pertemuan terakhir, lalu menciumnya. Kecupan yang ringan namun hangat, bahasa yang belum bisa dituliskan siapapun itu, akan selalu terkenang dibenak dan hati sang pria, menjadi kekuatannya untuk bertahan semaksimal mungkin agar dapat kembali dan melanjutkan cinta mereka.</p>
	<p>Lando dan Putri telah menikah selama 50 tahun. Tidak ada satu pun kebahagiaan maupun kedukaan yang belum pernah mereka rasakan. Bahkan sampai usia yang sekarang ini, mereka masih suka jatuh ke dalam perselisihan yang padat. Walaupun begitu, cinta mereka tetap membara, berbicara lewat kesehatian yang telah teruji selama bertahun-tahun, sama seperti pada saat mereka saling mengucapkan janji pernikahan. Kesetiaan, kecupan, kesehatian. </p>
	<p>Hanya segelintir contoh yang teramat pendek dari jutaan bahasa-bahasa baru yang dapat cinta sampaikan. Bahasa yang masih belum bisa terucapkan dengan jelas ataupun dimengerti cara kerjanya, namun benar-benar nyata khasiatnya. Hal-hal indah apa saja yang pernah kamu dapatkan dari orang-orang yang dekat dengan kamu? Bisakah kamu menyampaikannya dengan sederhana dan singkat? Tentu sulit. Love speaks in tongues.</p>
	<p><em>Love knocks at your door</em>. Cinta mengetuk pintu kamu. Tidak ada yang dapat cinta lakukan bila kamu tidak membukakan pintu baginya. Seorang suami tidak mungkin menceraikan istrinya bila ia terus membuka hatinya terhadap cinta. Seorang ayah yang membuka lebar-lebar &lsquo;gerbang&rsquo; cintanya akan mampu bersikap bijaksana, bukannya memaki-maki, pada anaknya yang ketahuan terlibat obat-obatan terlarang. Seorang wanita yang pernah dilecehkan semasa mudanya dapat menjadi pasangan yang baik bila ia mengijinkan cinta yang memaafkan berdiam di luka masa lalunya. </p>
	<p>Memang semuanya tidak semudah seperti yang digambarkan di atas, namun hal tersebut benar-benar akan terjadi bila ia tidak terkekang di luar pintu hati kamu. Ia bagaikan pribadi yang lembut, begitu sopan sehingga tidak memaksa orang untuk menerimanya. Jadi bila kamu sedang mengalami sebuah pergumulan hubungan, pertajam pendengaran kamu akan bunyi ketukan. Dia sedang ada diluar. Kamu tidak bisa menjadi kuat dan bijaksana lewat cerita-cerita tentang cinta yang didengar dari orang lain. </p>
	<p>Dia harus diijinkan masuk menjadi bagian dari sistem kamu, baru ia dapat mempengaruhi pemikiran kamu, mengikis kenegatifan yang ada, dan menebarkan harapan-harapan baru. Cinta akan terus mengetuk dan mengetuk dan mengetuk sampai kamu membukakan pintu baginya. Bahkan dalam tahap awal mencari sebuah hubungan pun, kamu harus memulainya dengan membuka pintu hati kamu. Tidak ada gunanya berdekam di kegelapan pojok hati kamu, sambil berharap-harap suatu saat akan datang hubungan yang indah. Love knocks at your door. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mindologist.blogsome.com/2008/03/20/atas-nama-cinta/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>How to look listening (when you&#8217;re not)</title>
		<link>http://mindologist.blogsome.com/2008/03/03/how-to-look-listening-when-youre-not/</link>
		<comments>http://mindologist.blogsome.com/2008/03/03/how-to-look-listening-when-youre-not/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Mar 2008 06:29:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Mind Blogging</category>
		<guid>http://mindologist.blogsome.com/2008/03/03/how-to-look-listening-when-youre-not/</guid>
		<description><![CDATA[	 Wahai Pria, ayo akui, kita sangat payah dalam hal mendengarkan ketika berurusan curhat one-on-one. Bila seseorang bercerita sesuatu, biasanya kita sibuk memikirkan apa yang ingin kita katakan balik kepadanya. Khususnya ketika pencerita itu seorang wanita, entah mengapa kita otomatis berusaha keras memikirkan celetukan yang paling cerdas dan lucu untuk menarik perhatiannya. Saya mungkin berlebihan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img style="float: left" alt="listen" hspace="5" src="http://truegossiper.blogsome.com/images/listen.jpg" border="0" /> Wahai Pria, ayo akui, kita sangat payah dalam hal mendengarkan ketika berurusan curhat one-on-one. Bila seseorang bercerita sesuatu, biasanya kita sibuk memikirkan apa yang ingin kita katakan balik kepadanya. Khususnya ketika pencerita itu seorang wanita, entah mengapa kita otomatis berusaha keras memikirkan celetukan yang paling cerdas dan lucu untuk menarik perhatiannya. Saya mungkin berlebihan, tapi sepertinya kita sering memperlakukan mendengarkan sebagai periode masturbasi ribuan pemikiran sendiri yang diakhiri dengan tumpahan orgasme ketika tiba giliran berbicara.</p>
	<p>Jika saja kita pria mampu membuat wanita merasa didengarkan, kita setidaknya sudah merebut tiga puluh persen pertama dari hatinya. Sebaliknya jika kita adalah si macho yang selalu berbicara ngalor ngidul kemana-mana dengan ratusan anekdot terbarunya, kita tetap menarik perhatian wanita, tapi sama seperti mereka menyenangi acara radio dan TV favoritnya (yang bisa ia ganti kapan aja bila bosan!).</p>
	<p>Mendengarkan itu mudah, tapi bukan berarti pria dilahirkan dengan kemampuan yang sama dengan wanita. Kaum Adam begitu tenggelam dalam ego dan kehebatannya, sampai tidak pernah terlatih untuk mendengarkan dengan baik. Itu adalah penyakit klasik pria selama berabad-abad yang tidak mudah untuk dibereskan. Saya memang tidak berusaha untuk mengajarkan penyembuhannya. Setidaknya, tidak sekarang.</p>
<a id="more-8"></a>
<p>Kita pria sering menganggap wanita cerewet dan rumit, tanpa pernah terpikir bahwa mungkin sebenarnya mereka hanya sedang meminta perhatian kita beberapa menit saja. Bagi wanita, <em>terlihat</em> mendengarkan itu sama berharganya dengan mendengarkan yang sebenarnya. Mereka tidak dapat membedakan keduanya, atau kalaupun bisa, mereka tidak terlalu peduli karena setidaknya mereka mendapat perhatian yang diinginkan. </p>
	<p>Apa yang akan saya bagikan tidak lain dari cara untuk menghargai permintaan sederhana tersebut. Ini semua berhubungan dengan representasi fisiologi untuk menghasilkan respon emosi yang sama seperti ketika kita sedang mendengarkan curhat seseorang dengan seksama. </p>
	<p>Pendeknya, seorang wanita akan otomatis merasa puas dan nyaman karena Anda mendengarkan ceritanya. Hanya saja Anda tidak sungguh-sungguh melakukannya. Bahkan Anda bisa tidak mendengarkannya sama sekali, dan tetap memberikan respon yang memuaskan ketika tiba giliran Anda. </p>
	<p>Simak poin-poin berikut ketika lawan bicara sedang menyampaikan ceritanya:</p>
	<ul>
<li>Kendalikan mata liar Anda! Bila seseorang wanita sedang bercerita, ia memang sedang meminta telinga Anda, tapi bukan berarti sang mata bebas merajalela kemana-mana. Berkelana ke arah selain posisi lawan bicara Anda adalah tindakan kekejian, demikian juga memandang ke arah tertentu dari tubuh lawan bicara tersebut. Mata pria sering seperti Frankeinstein yang memiliki nyawa sendiri sehingga Anda harus berupaya keras untuk mengendalikannya. Pria, hindari memandangi spot-spot ini: hidung, jerawat / tahi lalat, bibir, gigi, dan terutama, dada! </li>
	<li>Hei, lupakan dadanya.. Sudahlah, tidak perlu mencuri-curi karena tidak ada hal yang baru lagi di sana. Kendalikan decak nafsu mata Anda untuk sejenak demi memusatkan perhatian pada orang yang sedang curhat itu. Karena bila Anda memang beruntung, tidak tertutup kemungkinan setelah curhat itu Anda ditraktir pemandangan yang halal tanpa perlu mencuri-curi lagi. </li>
	<li>Ketika memandang wajah, fokuskan mata Anda tepat pada pangkal tulang hidungnya. Bagi yang tidak tahu dimana itu pangkal tulang hidung, ia adalah gundukan terendah yang secara horizontal tepat memisahkan kedua ujung mata lentiknya. Ini adalah titik sentral yang membuat lawan bicara merasa Anda sedang memandang tepat ke kedua matanya. Jika fokus Anda pada bola matanya, Anda hanya melihat salah satu matanya saja dan berpindah-pindah dari satu ke lainnya. </li>
	<li>Tatapan mata adalah salah satu simbol emosi untuk perhatian. Manusia adalah makhluk egois yang selalu ingin dunia berputar di sekelilingnya. Jika Anda bisa memberikan kesempatan seperti itu beberapa menit saja, jangan terkejut bila tiba-tiba dia menceritakan rahasia terdalamnya yang tidak pernah diceritakan ke siapapun. Tapi ingat sekali lagi, Pria, gundukan di wajah. Bukan di bawah pundak! </li>
	<li>Senyumlah dengan kedua sudut luar mata Anda. Ambil cermin dan coba berpose tertawa atau tersenyum, maka Anda akan melihat sudut luar mata menipis dan sedikit membentuk sudut menanjak. Inilah mata yang tersenyum. Berikutnya, coba untuk membuat sudut mata seperti itu lagi kali ini tanpa gerakan senyum bibir. Karena faktor fisik, setiap orang memiliki cara masing-masing, tapi tidak sulit untuk menemukannya. </li>
	<li>Sekalipun saya percaya senyuman selalu membuat orang nyaman dan merasa diperhatikan, namun terlalu banyak senyum membuat Anda seperti orang bodoh. Atau lebih parahnya, Anda jadi terlihat meremehkan curhatannya. Untuk menyiasati hal tersebut, Anda cukup perlu menciptakan sudut mata yang tersenyum itu, khususnya ketika sedang bertukaran pandangan seperti di poin sebelumnya. Ini membuatnya merasa Anda menyambut dengan ramah. </li>
	<li>Ketika ia selesai berbicara, ada dua kemungkinan tindakan yang dia lakukan. Pertama, ia menatap lurus ke mata Anda dengan tatapan yang meminta respon. Bila ini terjadi, tahan kelopak mata Anda selama dua detik, lalu kedipkan keduanya dengan perlahan. Jangan terlalu pelan sampai seperti orang mengantuk. Cukup setengah dari kecepatan normal kedipan. Ini adalah ucapan, &quot;Okay, saya mengerti..&quot; tanpa perlu membuka mulut sama sekali. </li>
	<li>Atau kemungkinan yang kedua, matanya menerawang memandang ke bawah, indikasi bahwa dia sedang mengadakan pembicaraan internal di pikirannya. Tahan nafsu Anda untuk menyemburkan kata-kata atau nasihat. Biarkan suspense itu terjaga, sampai akhirnya dia bersuara menanyakan pendapat Anda. </li>
	<li>Dengan gerakan seminimal mungkin, tarik nafas dalam-dalam dan keluarkan perlahan lewat mulut. Pastikan itu bukan gerakan yang mencolok, tapi ia harus mendengar halus suara tiupan nafas dari bibir Anda. Suara halus tersebut menimbulkan efek rileks pada lawan bicara Anda. Selain itu, Anda juga terlihat menjadi seperti tenggelam dalam simpati dengan apapun yang sedang dia ceritakan. </li>
	<li>Terakhir, bila akhirnya sudah tiba saatnya Anda berbicara, atau dia sudah menagih giliran Anda, ucapkan kata ini, &quot;Bagaimana perasaan kamu sekarang..&quot; <em>Ini adalah bagian terpenting dari seluruh strategi di atas</em>. Kunci yang selalu saya pakai ketika tiba giliran bicara. </li>
</ul>
	<p>Apa yang dikerjakan oleh pertanyaan ini adalah ia bertindak sebagai sumbu utama dari semua yang telah oleh lawan bicara ceritakan semenjak awal. Anda akan mendengar semacam rangkuman yang padat penuh dengan ungkapan emosi. Anda bisa saja tidak mendengar semua cerita di awal, tapi bila mendengar bagian ringkasan ini saja (yang biasanya pendek, satu dua menit), Anda bisa merakit jawaban yang sesuai dengan keadaan!</p>
	<p>Apa sulitnya untuk benar-benar mendengarkan barang satu dua menit di ujung cerita? Sangat-sangat mudah. Lawan bicara Anda merasa tersalurkan, ia juga mendapat respon yang memuaskan, ditambah lagi Anda bisa memberikan jawaban yang simpatik tanpa berjerih lelah mendengarkan cerita Sabang Sampai Merauke itu. </p>
	<p>Pendengaran adalah kemampuan, namun mendengarkan adalah keahlian! Waktu dan proses adalah indikator yang menentukan sensitifitas yang memuaskan ketika berurusan dalam hal curhat-mencurhat. Bila Anda membaca buku yang mengajarkannya, setidaknya membutuhkan satu hingga tiga bulan untuk bisa mempraktekkannya dengan memuaskan. itupun belum pasti. Tapi dengan artikel ini, Anda dapat langsung melakukannya sekarang juga bila seseorang memotong aktifitas Anda untuk curhat. </p>
	<p>Perhatikan poin-poin di atas, sama sekali bukan pedoman mendengarkan yang baik. Bahkan saya tidak menyentuh fisiologi pendengaran sedikitpun. Karena memang itu tujuan saya. Bagaimana Anda terlihat sedang mendengarkan, padahal justru sebaliknya.</p>
	<p>Saya tahu ini terkesan manipulatif, sebenarnya jauh dari itu. Cara-cara tersebut sangat berguna ketika seorang wanita mendadak curhat ketika Anda sedang terburu-buru atau sibuk mengerjakan sesuatu. Atau misalnya Anda sedang pusing dan tidak mampu konsentrasi mendengarkan apa-apa. Atau bila Anda memang pria tipe konselor yang sensitif dan seksama seperti saya, jelas tehnik di atas dapat melipatgandakan efek perhatian yang Anda inginkan. Menyenangkan, bukan?</p>
	<p>Akhir kata, selamat sukses mempraktekkan pengetahuan di atas. </p>
	<p>Saya harap Anda dari tadi tidak berpura-pura mendengarkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mindologist.blogsome.com/2008/03/03/how-to-look-listening-when-youre-not/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>D-Attack</title>
		<link>http://mindologist.blogsome.com/2008/02/23/d-attack/</link>
		<comments>http://mindologist.blogsome.com/2008/02/23/d-attack/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Feb 2008 06:22:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Mind Blogging</category>
		<guid>http://mindologist.blogsome.com/2008/02/23/d-attack/</guid>
		<description><![CDATA[	 Ijinkan saya bertanya. Pernahkah Anda tiba-tiba satu hari merasakan dada berdegub dengan dangkal, begitu dangkal hingga muncul perasaan sesak dan tumpul, menarik napas pun terasa enggan setengah mati? 
	Merasa ada sesuatu yang hilang, atau tidak seharusnya terjadi, atau setidaknya tercecer tidak pada tempatnya, dan tidak mengerti apa yang harus dilakukan. 
	Juga merasa bodoh karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img style="float: left" alt="depressed" hspace="5" src="http://truegossiper.blogsome.com/images/dattack.jpg" width="150" border="0" /> Ijinkan saya bertanya. Pernahkah Anda tiba-tiba satu hari merasakan dada berdegub dengan dangkal, begitu dangkal hingga muncul perasaan sesak dan tumpul, menarik napas pun terasa enggan setengah mati? </p>
	<p>Merasa ada sesuatu yang hilang, atau tidak seharusnya terjadi, atau setidaknya tercecer tidak pada tempatnya, dan tidak mengerti apa yang harus dilakukan. </p>
	<p>Juga merasa bodoh karena terhilang dalam pemikiran ketakutan sendiri, tidak bisa konsentrasi menyelesaikan hal yang paling sederhana sekalipun, malah jadi duduk merenung dan mendesah tidak karuan. <a id="more-7"></a></p>
	<p>Anda pernah terpuruk dengan perasaan merasa seperti itu?</p>
	<p>Baik Anda mengangguk cepat semangat atau lambat ragu-ragu mengiyakannya, saya yakin Anda pasti terkenang kembali kondisi yang tidak menyenangkan itu. Bahkan sebagian dari Anda bukan saja terkenang, tapi juga begitu kelamnya perasaan itu hingga saat ini pun ketika membaca bagian ini merasa perasaan itu mebayang-bayangi anda dengan senyumnya yang kering itu.</p>
	<p>Saya tidak suka merasa dicengkeram perasaan seperti itu. </p>
	<p>Rasanya begitu mandul. </p>
	<p>Tidak benar-benar mandul, tentunya, tapi saya yakin Anda mengerti perasaan yang saya maksud. </p>
	<p>Itu adalah peristiwa emosi yang yang dinamakan serangan depresi, saya biasa menyebutnya D-Attack. Berbeda dengan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Clinical_depression" target="_blank">depresi klinis</a>,&nbsp;serangan depresi adalah gangguan emosi yang terjadi mendadak dan berjangka waktu sementara. Sama seperti datangnya yang mendadak, ia juga akan pergi dengan cepat tanpa dimengerti juga dalam satu hari, maksimal tiga. </p>
	<p>Serangan depresi muncul ketika kita memendam amarah yang ingin meledak karena alasan tertentu, biasanya karena kita takut kehilangan kendali ketika meluapkannya. Atau juga karena tidak menemukan rekan yang tepat untuk berbagi perasaan tersebut. </p>
	<p>Rasa marah yang terpendam itulah akhirnya menggembung menjadi bentuk depresi. Uniknya, sekalipun hanya terjadi pada jiwa, namun dapat terasa begitu nyata, misalnya dengan muncul efek beban yang mendadak ditimpakan ke entah bagian mana di tubuh Anda. </p>
	<p>Saya biasa merasa tekanan di daerah dada kiri, seolah ada gabus yang mengisi ruang-ruang dada sehingga sulit untuk menarik nafas dalam-dalam. Sebagian orang lain merasa seperti seseorang menekan bagian tengah perut tengah atau pundaknya. </p>
	<p>Seorang teman saya menceritakan kejadiannya dengan rasa sesak pada leher karena seutas tali imajiner yang menahannya terikat pada bangunan tertentu. Tekanan tali itu begitu nyata sampai ia kadang perlu benar-benar memijat lehernya seperti hendak melonggarkan ikatan. </p>
	<p>Saya tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya perasaan itu. Apapun bentuk fisiologis yang Anda rasakan ketika depresi itu muncul, Anda sudah bergidik ngeri ketika suatu saat merasakan gejala-gejala awalnya. </p>
	<p>Tapi tahukah Anda bahwa sama seperti mood yang terganggu itu dapat mempengaruhi fisik, rumus yang sama bisa dilakukan secara terbalik. Para peneliti menemukan bahwa jika kita mengerjakan aktifitas tertentu dengan anggota tubuh, maka serangan depresi itu dapat dikendalikan, bahkan lenyap jauh lebih cepat dari normal. </p>
	<p>Sudah banyak penelitian yang mebuktikan bahwa tersenyum, sekalipun itu senyum palsu dan terpaksa, mampu membawa efek rileksasi yang dibutuhkan oleh tubuh. </p>
	<p>Apa yang terjadi ketika kita (memaksakan) tersenyum, otot-otot wajah mengingatnya sebagai gerakan yang identik dengan senyum yang sebenarnya dan mengirim kembali data-data tersebut ke otak sebagai perasaan senang atau nyaman. </p>
	<p>Ini sepertinya tidak masuk akal, tapi saya selalu berhasil ketika melatih orang lain dan melakukannya sendiri. </p>
	<p>Dan bila Anda sudah sukses membuat diri tersenyum, jangan berhenti di sana. Dorong sedikit lagi hingga tertawa dan tertawa. Anda akan merasakan aliran yang seperti menguras rasa sesak itu dimanapun ia menekan tubuh Anda. </p>
	<p>Tertawa membuat otot jauh lebih rileks karena Anda pasti menarik nafas lebih banyak sehingga jumlah oksigen dalam tubuh menjadi lebih banyak. Tekanan darah dalam tubuh berangsur-angsur pulih. </p>
	<p>Dr. Lee Berk, seorang peneliti di Loma Linda University School of Medicine, menemukan bahwa tertawa dapat meningkatkan jumlah serum T-Lymphocytes yang berguna untuk membuat tubuh terasa lebih segar. Tertawalah banyak-banyak, kuras habis semua spon sesak itu. Ia tidak berguna sama sekali berdiam di sana. <br />&nbsp;<br />Selanjutnya, busungkan dada dan tegakkan dagu yang layu. Saya menjamin jika Anda membiarkan tubuh terhempas lemas dan menunduk, rasa depresi itu akan terasa berlipat-lipat ganda. Tidak usah jauh-jauh, bahkan sekarang jika Anda menjatuhkan pundak dan punggung ke posisi membungkuk, Anda akan mendapatkan perasaan aneh yang tidak menyenangkan. </p>
	<p>Coba ingat-ingat kejadian dimana Anda bersemangat dan seolah-olah dunia berputar mengelilingi Anda. Perhatikan bagaimana postur tubuh Anda saat itu. Pasti tegak dan berjaya seperti Mount Everest yang kokoh itu. Setiap otot menegang namun santai, kaki Anda menapak dengan mantap, dan dagu berdiri tepat pada posisi 45 derajat terhadap dada. </p>
	<p>Itulah postur seorang yang tidak memiliki sedikitpun rasa depresi. Jika Anda bisa mengulang sensasi tubuh yang sempurna itu, maka rasa depresi itu juga akan menghilang. </p>
	<p>Anda bisa saja mengajukan keberatan, &quot;Ah, ini semua terlalu simplifikasi. Omong kosong. Lagipula, sama saja menyembuhkan dengan menipu diri!&quot; </p>
	<p>Ya, saya setuju. Ini semua simplifikasi. Ini semua juga seperti tehnik menipu diri sendiri. Tapi saya bukan sedang berbicara tentang depresi klinis yang memang bisa dianggap sebagai penyakit serius.</p>
	<p>Saya berbicara tentang serangan depresi. Gangguan emosi yang selalu membuat otak Anda penuh dengan simplikasi konyol dan negatif. Gangguan emosi yang tidak lain dari menipu diri sendiri dengan hal-hal yang sebenarnya tidak berguna. Gangguan emosi yang menghukum diri sendiri, supaya setelah sembuh dalam satu dua hari dapat merasa menjadi orang yang lebih baik. </p>
	<p>Anda pasti mengerti maksud saya. Anda mungkin sedang tersenyum mendapatkan pencerahan ini. Anda akan mengingat baik-baik semua informasi di atas, dan ketika serangan depresi itu muncul, otak Anda akan menayangkan ulang artikel ini dan otomatis melakukannya. Dalam hitungan menit, seluruh pasukan setan depresi itu membubarkan diri dari gua persembunyiannya dalam tubuh Anda.</p>
	<p>Saya tidak heran&nbsp; jika kini Anda justru jadi tidak sabar menantikan serangan depresi berikutnya hanya supaya bisa mencoba semua formula ajaib ini dan merasakan khasiatnya yang mengagumkan. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mindologist.blogsome.com/2008/02/23/d-attack/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Bumi dalam bahaya?</title>
		<link>http://mindologist.blogsome.com/2008/02/18/bumi-dalam-bahaya/</link>
		<comments>http://mindologist.blogsome.com/2008/02/18/bumi-dalam-bahaya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Feb 2008 06:41:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Mind Blogging</category>
		<guid>http://mindologist.blogsome.com/2008/02/18/bumi-dalam-bahaya/</guid>
		<description><![CDATA[	Kini saya siap dengan pembahasan yang akan menjadikan saya sebagai manusia yang paling dibenci oleh VM Rabolu dari alam baka sana, atau setidaknya oleh penerbit Abdi Tandur yang memproduksi buku-buku beliau di Indonesia. Thanks to tim promosi mereka yang berani memunculkan diri di tagboard gue. Siapa sih Rabolu dan Abdi Tandur? Ah, baca aja dulu..
	Jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Kini saya siap dengan pembahasan yang akan menjadikan saya sebagai manusia yang paling dibenci oleh VM Rabolu dari alam baka sana, atau setidaknya oleh penerbit Abdi Tandur yang memproduksi buku-buku beliau di Indonesia. Thanks to tim promosi mereka yang berani memunculkan diri di tagboard gue. Siapa sih Rabolu dan Abdi Tandur? Ah, baca aja dulu..</p>
	<p>Jadi alkisah tersebutlah VM Rabolu yang mendapatkan pengetahuan tentang sebuah planet besar bernama Hercolubus yang sedang mendekati bumi dan akan membawa bencana kehancuran paling mengerikan terhadap seluruh umat manusia, dan menuliskannya dalam buku <a href="http://indonesia.hercolubus.net/" target="_blank">Hercolubus</a>. Okay, terdengar seperti salah satu film Hollywood, tapi rasanya kita perlu membuang sentimen tak beralasan tersebut. Mungkin kita perlu melihat sedikit background sang pencetus dulu kan?<a id="more-10"></a></p>
	<p><img style="float: left" hspace="5" src="http://indonesia.hercolubus.net/image/vmrabolu_op.jpg" border="0" /> Ia bernama asli Joaquin Amortegui Valbuena, lahir di Kolombia tahun 1924 di keluarga yang miskin namun dekat dengan alam. Tidak ada data sejarah lainnya hingga ia berumur 26 tahun ketika mendapatkan pengetahuan yang mengubah hidupnya, dan segera menyadari kalau dia memiliki kesempatan untuk mencapai pembangunan internal dan kemajuan yang dibutuhkan umat manusia. Sungguh mulia. Dengan seluruh konsentrasinya, Joaquin terus-menerus menyebarkan pengetahuannya pada tingkat internasional melalui kuliah, kursus, kongres, pertemuan internasional, dan sebagainya secara kekeluargaan dan mendahulukan kepentingan umum. Selanjutnya pada usia 50 tahun, berkat kerja keras, pengorbanan, dan disiplin pribadinya, Joaquin mendapatkan gelar Master yang mengubah namanya menjadi Rabolu, tepatnya Master Rabolu. Yup, elo benar. Itu bukan gelar master akademis yang biasa kita dengar. Itu gelar Master yang lain.. <img src='http://mindologist.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  </p>
	<p>Jadi begini cerita full nya. Dia semenjak kecil berguru kepada Master Samael, seorang guru spiritual yang terkenal di jaman itu. Joaquin rajin bersama-sama dengan Samael, bahkan mulai ikut mengajar di sejumlah tempat tentang pengajaran sang guru. Tak lama kemudian, sang guru wafat, dan Joaquin mewarisi roh inkarnasi gurunya, demikianlah namanya menjadi Master Rabolu. Semakin menarik, bukan? Hayo baca lanjut.</p>
	<p>Ternyata si Rabolu ini adalah salah seorang guru <a href="http://www.gnosticweb.com/index.php?PageID=18" target="_blank">aliran mistik new age</a>, bersama dengan Master Samael (dijuluki Pemimpin Pasukan Neraka) dan Master Belzebuub yang tidak lain adalah murid dari Rabolu. Mempertimbangkan klaim Rabolu ia menulis buku Hercolubus untuk memperingatkan manusia dari kehancuran, sejak kapan Neraka peduli akan keselamatan manusia? Hmmm, sepertinya kita sudah cukup melihat background beliau. Oh ya, saya tidak tau initial V yang ada di depan nama M Rabolu itu. It doesn&#8217;t matter lah, so shall we continue? </p>
	<p>Di tahun 1998, Rabolu membuat usaha terakhir untuk menolong umat manusia dan menulis sebuah buku pengorbanan pribadinya yaitu &quot;Hercolubus atau Planet Merah&quot;, dimana dia telah berhasil menggambarkan secara detil dan tanpa kesalahan kejadian yang menakutkan yang akan mengambil tempat di Bumi dalam kurun waktu yang cepat, dengan planet Hercolubus mendekati. Dia juga menceritakan kepada kita apa yang kita bisa perbuat untuk menghindari konsekuensi.</p>
	<p>Lets be honest, penjelasan logis dari film science-fiction tentang kehancuran bumi seperti Day After Tommorrow atau Deep Impact pun terkadang terasa agak hiperbola. Apalagi ocehan seseorang yang mengaku sebagai Guru Karma dan salah satu dari 42 Hakim Keadilan Kosmis? Yang benar saja. Coba kita lihat sedikit lagi yang dia tuliskan di buku nya tersebut. </p>
	<p>&quot;Mari kita memperbincangkan tentang Hercolubus, planet merah, yang mana saat ini sedang mendekati Bumi. Ilmuwan, menurut beberapa versi, bahkan telah menimbangnya dan mengukur garis tengahnya, seolah-olah adalah suatu mainan anak, tetapi nyatanya tidak seperti itu. Hercolubus, atau planet merah, adalah lima atau enam kali lebih besar dari Jupiter. Ini merupakan raksasa sangat besar dan tidak ada yang dapat mengalihkannya.&quot;</p>
	<p>Saya melakukan googling untuk planet yang ia klaim sudah dikenali oleh para ilmuan. Guess what happened? Dari seratus entry pertama, gue ngga bisa menemukan satu link publikasi akademis manapun, apalagi dari NASA atau yang sejenisnya, membicarakan tentang Hercolubus. Tidak ada sama sekali. Jika elo googling legenda yang super konyol sekalipun, seperti &#8216;Dracula&#8217;, elo bakalan dapet sejumlah referensi akademis di halaman pertamanya. Bagaimana mungkin &#8216;Hercolubus&#8217;, planet yang katanya begitu berbahaya itu, tidak pernah ada dalam catatan jurnal ilmiah? </p>
	<p>Kalau Anda memang berniat, silakan liat satu-persatu entry yang memiliki referensi Hercolubus tersebut. All of them berasal dari komunitas ajaran mistik yang mengagung-agungkan Gnosis (kalo ngga salah itu bahasa latin untuk Pengetahuan). Yeah right, pengetahuan Rabolu pasti jauh lebih tinggi daripada ilmuan NASA sekalipun, karena NASA perlu belasan tahun dan ratusan juta dollar untuk mencapai Bulan, sementara Rabolu tinggal duduk santai di kamar, berkomat-kamit dalam proyeksi astral-nya dan voila sampailah dia bulan dan segera pulang sambil membawa bongkahan keju untuk makan malam. </p>
	<p><img style="float: left" hspace="5" src="http://www.compassion-in-business.co.uk/cityscape/books/covers/redcover1.jpg" vspace="5" border="0" />Entah bagaimana dengan Anda, but dari sisi saya, buku Hercolubus dan semua celotehan Rabolu ini ngga lebih bermakna daripada serial Return of The Condor Heroes dan Doraemon. Jadi kalo elo berharap membaca sebuah buku yang sangat valid dan sarat dengan pembuktian ilmiah, lupakan saja buku ini. Tapi jika Anda mencari cerita pengungkapan misteri dunia dan masa depan, ya Hercolubus pasti akan banyak berisi hal-hal tersebut. Tapi hanya itu saja yang bisa kita nikmati. Cerita dan impian yang sakit dari Rabolu; dia sudah terlalu banyak melakukan perjalanan antar dimensi sehingga tidak satupun omongannya bisa kita anggap serius. <img src='http://mindologist.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
	<p>Satu lagi sebagai penutup, kutipan omongan Rabolu dari <a href="http://www.gnosticweb.com/index.php?PageID=106" target="_blank">pengajarannya</a> yang lain: &quot;Everything is an illusion. Everything, everything. There is nothing real in life. The only thing that is real here, in this three dimensional world, is what we are carrying out within ourselves, taking advantage of this time to build our own temple. And that is the only real thing! The rest is fantasy, illusion. Better said it is a lie.&quot; Wah, thanks banget. You really help us to understand that your book itself is just fantasy and illusion, or better yet, a lie. Yay!</p>
	<p>Sekian tulisan tentang Hercolubus ini. Sebenarnya saya menemukan buku ini dari tahun lalu, dan dah sempet cerita ke beberapa temen, tapi ngga pernah sedetil ataupun seserius ini. Ini cuman gara-gara sang penerbit sendiri berani-beraninya mengirimkan spam email buku omong kosongnya. Demikianlah sekarang tercatat Peter Valentino sebagai salah satu manusia paling dibenci Rabolu karena ini adalah pertama kalinya di seluruh jagad internet ada review jujur (baca: negatif) tentang Hercolubus dan tetek bengeknya itu. Mungkin ini klaim yang berlebihan, tapi ah saya belajar dari Koko Rabolu sendiri kok. <img src='http://mindologist.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
	<p>Hmmm, saya juga sudah mengirim email tentang entry ini ke pihak penerbit Abdi Tandur. Jadi kalo next time you guys ngga bisa akses entry ini lagi, kemungkinan besar mereka sudah membangkitkan roh Rabolu (mengapa dalam otak saya selalu terbayang kue?) dan mengirimnya untuk memporak-pondakan blog ini. Atau kalau mereka takut merepotkan jiwa agung Rabolu yang ada dalam peristirahatannya, mereka juga bisa melakukannya dengan menyewa satu dua hacker. Kalaupun mereka mereply email, gue pastikan email itu akan muncul secara publik di entry berikutnya. Menyenangkan, bukan? ^^
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mindologist.blogsome.com/2008/02/18/bumi-dalam-bahaya/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>God Delusion</title>
		<link>http://mindologist.blogsome.com/2008/02/13/god-delusion/</link>
		<comments>http://mindologist.blogsome.com/2008/02/13/god-delusion/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Feb 2008 06:04:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Mind Blogging</category>
		<guid>http://mindologist.blogsome.com/2008/02/13/god-delusion/</guid>
		<description><![CDATA[<img src="http://www.birminghamboxoffice.com/image.asp?file=/folder%201/Richard%20Dawkins.jpg&#038;width=402" alt="god delusion" hspace=5 vspace=5  style="float:left"/> Currently reading this one, a very strong and fistful book talking about the impossibility of God and attacking the use of religion. Sebenernya cuman iseng pengen ngeliat kata pengantarnya aja, cos buku ini mendapat banyak rekomendasi dari kelompok-kelompok atheis dan ilmuan. Tapi ketika baca preface itu, jadi intrigued banget untuk ngelanjutin. Si <a href="http://richarddawkins.net/">Richard Dawkins</a> beneran bisa nge-hook reader untuk tertantang baca. Especially ketika dia ngutip ucapan Robert M. Pirsig, 'When one person suffers from a  delusion, it is called insanity. When many people suffer from a delusion it is called Religion.' BAM! 

I'm not an atheist, but gue bisa relate banget sama argumen si Richard. Kalo ngikutin term yang dia buat di chapter dua, then I'm a <em>De Facto Theist</em>. These days religion jauh lebih menyusahkan daripada yang seharusnya. Susah banget untuk bisa ngeliat kalo setiap aturan kerohanian itu, dalam agama apapun, sebenarnya bermaksud untuk membuat kehidupan manusia jauh lebih baik, especially di Indonesia yang masih so Dark Ages. Udah gitu, keadaan masih diperparah lagi ama sejumlah aktor yang pengen menjadikan agama sebagai landasan negara. Mampus deh..



]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img style="float: left" alt="god delusion" hspace="5" src="http://www.birminghamboxoffice.com/image.asp?file=/folder%201/Richard%20Dawkins.jpg&#038;width=402" vspace="5" border="0" /> Currently reading this one, a very strong and fistful book talking about the impossibility of God and attacking the use of religion. Sebenernya cuman iseng pengen ngeliat kata pengantarnya aja, cos buku ini mendapat banyak rekomendasi dari kelompok-kelompok atheis dan ilmuan. </p>
	<p>Tapi ketika baca preface itu, jadi intrigued banget untuk ngelanjutin. Si <a href="http://richarddawkins.net/">Richard Dawkins</a> beneran bisa nge-hook reader untuk tertantang baca. Especially ketika dia ngutip ucapan Robert M. Pirsig, &lsquo;When one person suffers from a delusion, it is called insanity. When many people suffer from a delusion it is called Religion.&rsquo; BAM! <a id="more-4"></a></p>
	<p>I&rsquo;m not an atheist, but gue bisa relate banget sama argumen si Richard. Kalo ngikutin term yang dia buat di chapter dua, then I&rsquo;m a <em>De Facto Theist</em>. These days religion jauh lebih menyusahkan daripada yang seharusnya. Susah banget untuk bisa ngeliat kalo setiap aturan kerohanian itu, dalam agama apapun, sebenarnya bermaksud untuk membuat kehidupan manusia jauh lebih baik, especially di Indonesia yang masih so Dark Ages. Udah gitu, keadaan masih diperparah lagi ama sejumlah aktor yang pengen menjadikan agama sebagai landasan negara. Mampus deh..</p>
	<p>Sekarang ini di RCTI lagi ada sinetron bernuansa kristiani, cukup mengejutkan dan gue pikir baru pertama kali. Mungkin ini adalah salah satu dari serangkaian sepak terjang awal untuk &lsquo;membalas&rsquo; semua tayangan islami yang selama ini membabi-buta di nyaris semua saluran TV swasta. Semangat agama untuk bersaing dan menjadi yang terpopuler, terbaik, dan terutama. Please deh, dimana lagi show tentang ilmu pengetahuan yang bermutu kayak jaman dulu, Contact dan Beyond 2000? </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mindologist.blogsome.com/2008/02/13/god-delusion/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenai Tarot</title>
		<link>http://mindologist.blogsome.com/2008/01/03/3/</link>
		<comments>http://mindologist.blogsome.com/2008/01/03/3/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2008 05:59:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Mind Blogging</category>
		<guid>http://mindologist.blogsome.com/2008/01/03/3/</guid>
		<description><![CDATA[Seolah ditubruk oleh gong seukuran truk pemompa air yang biasa menyiram tanaman di sepanjang pinggir jalan protokol, pagi itu saya langsung terbangun oleh dentuman dering HP yang kebetulan terletak tepat di samping telinga saya. Matahari saja baru mengintip seperempat lekuk tubuhnya di ufuk sana, jadi menelpon seseorang pada jam seperti ini seharusnya tergolong tindakan yang ilegal.

"Peter, gue pengen tau masa depan gue! Gebetan HTS'an gue mendadak bilang mo merit bulan depan, tapi ngga pernah bilang ama gue slama ini, stress abis nih jadi pengen liat masa depan gue di kartu Tarot elo!" demikian suara cewek cempreng yang merepet tanpa perlu berhenti menarik napas.

Saya mengurut dada, menghela napas karena entah sudah berapa kali dia mengulangi kejadian seperti ini. Kamu akan mengerti mengapa sebentar lagi, karena sebelumnya saya ingin bercerita tetek bengek latar belakang yang tidak terlalu berguna -seperti biasa dilakukan novelis-novelis besar di luar sana- untuk menambah jumlah halaman dan memenuhi syarat batas karakter dari penerbitnya.

Saya yakin tidak ada orang yang saat ini belum pernah mendengar permainan ramalan dengan kartu Tarot. Bahkan keponakan saya yang berusia 10 tahun saja sudah bisa berceloteh, "Halo, Kakak Peramal Kartu!" sekalipun dia belum tahu namanya adalah Tarot. 

Awal perjumpaan saya dengan kartu Tarot bisa ditelusuri sekitar 10 tahun yang lalu. Saat itu saya sedang asyik berkeliling di sebuah toko buku, tidak sengaja menemukan sebuah buku yang kemasan plastiknya sudah tersobek sehingga bisa dibaca isinya. Buku itu menceritakan tentang sejarah Tarot sebagai pengetahuan dan medium yang dipakai oleh kalangan penasihat kerajaan dan orang-orang pintar lainnya untuk melirik hal-hal yang bersifat rahasia dan filosofis, seperti Cinta, Keberuntungan, dan Tujuan Hidup. Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk memutuskan membeli buku tersebut karena penuh dengan semua cerita dan legenda menarik dari jaman kerajaan-kerajaan besar di masa lalu. 

Lebih satu abad berlalu, kini saya secara aktif menggunakan Tarot sebagai medium untuk membantu siapa saja yang ingin menemukan lebih banyak pengungkapan dan inspirasi dalam hidup. Salah satu klien rutin saya adalah teman yang saya ceritakan di atas. Sebut saja namanya Yvonne, cewek usia 24 tahun yang hobi HTS'an dengan banyak cowok dan langganan 'diputusin' rata-rata dua bulan sekali. 

Alasan saya mengurut dada bukan karena kebiasaan dia yang langsung datang atau menelpon dengan suara parau karena habis menangis semalaman setiap kali mengetahui bahwa dia harus kehilangan HTS'annya. Tapi karena saya harus mengulang entah untuk keberapa belas kali padanya bahwa kartu Tarot bukan medium yang pasti untuk mengetahui nasib dan masa depan. Ada ratusan pekerja Tarot Reader di luar sana, masing-masing memiliki gaya dan pendekatan filosofis tersendiri dalam membacakan tebaran kartunya. Sebagian menganggap tebaran Tarot sebagai kunci meramal nasib di masa lalu dan masa depan, sebagian lagi sebagai dasar untuk mengambil keputusan. Tidak sedikit juga yang menganggapnya sebagai entertainment saja. 

Saya juga memiliki pendekatan sendiri, yakni sebagai cermin kehidupan. Semua gambar-gambar yang tertera dalam 78 kartu Tarot tersebut adalah iconografi yang menyimbolkan kesadaran manusia akan dunia yang berputar di sekitarnya. Masing-masing kartu memiliki puluhan interpretasi yang tidak dapat diartikan begitu saja setelah membaca satu dua buku tentang Tarot. Saya sering menganalogikan tebaran Tarot dengan menjalani rutin check-up medis di rumah sakit. Sekalipun sang dokter sudah memegang hasil foto rontgen / X-ray, dia tetap harus melirik pada lembar catatan medis dari sejumlah pemeriksaan lainnya agar dapat memberikan advis yang akurat. 

Itu sebabnya bagi saya hanya pewacana Tarot dengan pemahaman yang dalam dan jam terbang tinggi yang dapat mengerti bahwa konsultasi Tarot sama sekali bukan tentang mengetahui nasib di masa depan, tapi tentang dialog mengumpulkan cukup informasi untuk memahami sejumlah potensi dari apa yang sudah, sedang dan akan terjadi dalam kehidupan seseorang. Kalau ingin saya potong jadi sederhana, saya akan memilih ketiga kata berikut ini sebagai pendekatan saya dalam konsultasi Tarot: Dialog, Kontemplasi, dan Potensi.

Kembali lagi ke contoh kasus Yvonne di atas, saya sudah berulang kali memberikan briefing seperti itu kepadanya, tapi tetap saja dia memperlakukan Tarot sebagai jalan singkat untuk memuaskan dirinya dan merasa lebih baik. Ada terlalu banyak orang yang pergi ke peramal Tarot atau medium lainnya dengan sikap yang seperti ini. Satu saja komentar saya untuk orang yang seperti itu: mereka akan terus kecanduan untuk datang dan datang lagi setiap kali mengalami masalah. Semakin sering datang ke booth Tarot, semakin mereka kehilangan common sense dan kemampuan berpikir kritis karena mereka meninggalkan kemampuan alamiah mereka untuk berpikir dan mengambil keputusan, menyerahkannya kepada solusi instan sebagaimana dicelotehkan oleh sang Tarot Reader.

Seharusnya pekerja Tarot Reader bertugas untuk menginisiasi, menginspirasikan klien mereka untuk berpikir lebih jernih, mendorong mereka menjadi lebih waspada akan kecenderungan gejolak psikis yang muncul, menyentil hidung mereka untuk bisa lebih peka mencium bau kesempatan yang datang. Tentunya hal tersebut tidak dapat dilakukan dalam waktu 5-10 menit saja. Saya hanya mau memberikan konsultasi jika klien bersedia meluangkan waktu minimal 30 menit dengan pikiran yang terbuka dan keinginan untuk berdialog demi menemukan jawaban atas masalah yang dia butuhkan. 

Ya Tarot bisa dipakai untuk melirik waktu di masa lalu dan masa depan, tapi tetap saja bukan science. Jika ada seorang pekerja Tarot Reader yang mengaku bisa memberikan bacaan akurat tentang masalahmu dalam waktu lima menit, silakan bakar dia karena itu adalah dusta. Tarot adalah cermin yang kamu pakai untuk mengamati kehidupanmu secara lebih obyektif dan menyeluruh, dan pekerja Tarot Reader selayaknya adalah partner yang mendorong kamu untuk mengakses tingkat kesadaran yang lebih tinggi itu demi mengambil keputusan yang tepat, bukannya mengambilkan keputusan untuk dirimu. Sebut saja kami ini seperti ahli psikologi dengan aliran sekolah jaman klasik.

Saya tahu ada banyak pekerja Tarot, pewacana Tarot, atau sebutlah apa istilahnya, yang tidak setuju atau bahkan panas membaca apa yang saya tuliskan ini, saya tidak peduli. Sebagian besar pekerja Tarot Reader memang tipe manusia self-delusional yang cenderung mencari bentuk kekaguman untuk memuaskan ego dan pengakuan jati diri mereka dari orang-orang yang datang untuk berkonsultasi kepada mereka. Itu sebabnya ketika sesi konsultasi, kamu akan bisa merasakan bahwa yang menjadi fokus adalah diri mereka -kehebatan, pengalaman mereka, termasuk tebaran tarot yang aneh dan unik- semuanya tentang mereka, padahal seharusnya fokus ada pada diri kamu sebagai klien. 

Setiap pagi saya biasa membuka tebaran Tarot sederhana hanya untuk melihat cerminan inspirasi apa yang bisa saya lakukan di sepanjang hari tersebut. Jika kamu adalah pewacana Tarot dan merasa tersinggung dengan tulisan ini, ketahuilah bahwa pagi ini saya mendapatkan kartu Judgement dan King of Swords yang terbalik. Mungkin itu yang menjelaskan mengapa saya menjadi begitu pedas dan kritis dalam mengutarakan pendapat. Mungkin juga tidak. Saya tidak begitu peduli karena yang penting pembaca kini bisa mengangguk-anggukkan kepala dengan bijaksana dan tentunya lebih diperlengkapi dengan sikap yang benar jika tiba saatnya perlu berkonsultasi dengan seorang pekerja Tarot Reader pilihan mereka. 

Tarot guides, not define...
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img style="float: left" alt="tarot" hspace="5" src="http://www.grandpasgeneral.com/shop/images/tarot/tarot.jpg" vspace="5" border="0" /></p>
	<p>Seolah ditubruk oleh gong seukuran truk pemompa air yang biasa menyiram tanaman di sepanjang pinggir jalan protokol, pagi itu saya langsung terbangun oleh dentuman dering HP yang kebetulan terletak tepat di samping telinga saya. Matahari saja baru mengintip seperempat lekuk tubuhnya di ufuk sana, jadi menelpon seseorang pada jam seperti ini seharusnya tergolong tindakan yang ilegal.</p>
	<p>&ldquo;Peter, gue pengen tau masa depan gue! Gebetan HTS&rsquo;an gue mendadak bilang mo merit bulan depan, tapi ngga pernah bilang ama gue slama ini, stress abis nih jadi pengen liat masa depan gue di kartu Tarot elo!&rdquo; demikian suara cewek cempreng yang merepet tanpa perlu berhenti menarik napas.</p>
	<p>Saya mengurut dada, menghela napas karena entah sudah berapa kali dia mengulangi kejadian seperti ini. Kamu akan mengerti mengapa sebentar lagi, karena sebelumnya saya ingin bercerita tetek bengek latar belakang yang tidak terlalu berguna -seperti biasa dilakukan novelis-novelis besar di luar sana- untuk menambah jumlah halaman dan memenuhi syarat batas karakter dari penerbitnya. <a id="more-3"></a></p>
	<p>Saya yakin tidak ada orang yang saat ini belum pernah mendengar permainan ramalan dengan kartu Tarot. Bahkan keponakan saya yang berusia 10 tahun saja sudah bisa berceloteh, &ldquo;Halo, Kakak Peramal Kartu!&rdquo; sekalipun dia belum tahu namanya adalah Tarot. </p>
	<p>Awal perjumpaan saya dengan kartu Tarot bisa ditelusuri sekitar 10 tahun yang lalu. Saat itu saya sedang asyik berkeliling di sebuah toko buku, tidak sengaja menemukan sebuah buku yang kemasan plastiknya sudah tersobek sehingga bisa dibaca isinya. Buku itu menceritakan tentang sejarah Tarot sebagai pengetahuan dan medium yang dipakai oleh kalangan penasihat kerajaan dan orang-orang pintar lainnya untuk melirik hal-hal yang bersifat rahasia dan filosofis, seperti Cinta, Keberuntungan, dan Tujuan Hidup. Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk memutuskan membeli buku tersebut karena penuh dengan semua cerita dan legenda menarik dari jaman kerajaan-kerajaan besar di masa lalu. </p>
	<p>Lebih satu dekade berlalu, kini saya secara aktif menggunakan Tarot sebagai medium untuk membantu siapa saja yang ingin menemukan lebih banyak pengungkapan dan inspirasi dalam hidup. Salah satu klien rutin saya adalah teman yang saya ceritakan di atas. Sebut saja namanya Yvonne, cewek usia 24 tahun yang hobi HTS&rsquo;an dengan banyak cowok dan langganan &lsquo;diputusin&rsquo; rata-rata dua bulan sekali. </p>
	<p>Alasan saya mengurut dada bukan karena kebiasaan dia yang langsung datang atau menelpon dengan suara parau karena habis menangis semalaman setiap kali mengetahui bahwa dia harus kehilangan HTS&rsquo;annya. Tapi karena saya harus mengulang entah untuk keberapa belas kali padanya bahwa kartu Tarot bukan medium yang pasti untuk mengetahui nasib dan masa depan. Ada ratusan pekerja Tarot Reader di luar sana, masing-masing memiliki gaya dan pendekatan filosofis tersendiri dalam membacakan tebaran kartunya. Sebagian menganggap tebaran Tarot sebagai kunci meramal nasib di masa lalu dan masa depan, sebagian lagi sebagai dasar untuk mengambil keputusan. Tidak sedikit juga yang menganggapnya sebagai entertainment saja. </p>
	<p>Saya juga memiliki pendekatan sendiri, yakni sebagai cermin kehidupan. Semua gambar-gambar yang tertera dalam 78 kartu Tarot tersebut adalah iconografi yang menyimbolkan kesadaran manusia akan dunia yang berputar di sekitarnya. Masing-masing kartu memiliki puluhan interpretasi yang tidak dapat diartikan begitu saja setelah membaca satu dua buku tentang Tarot. Saya sering menganalogikan tebaran Tarot dengan menjalani rutin check-up medis di rumah sakit. Sekalipun sang dokter sudah memegang hasil foto rontgen / X-ray, dia tetap harus melirik pada lembar catatan medis dari sejumlah pemeriksaan lainnya agar dapat memberikan advis yang akurat. </p>
	<p>Itu sebabnya bagi saya hanya pewacana Tarot dengan pemahaman yang dalam dan jam terbang tinggi yang dapat mengerti bahwa konsultasi Tarot sama sekali bukan tentang mengetahui nasib di masa depan, tapi tentang dialog mengumpulkan cukup informasi untuk memahami sejumlah potensi dari apa yang sudah, sedang dan akan terjadi dalam kehidupan seseorang. Kalau ingin saya potong jadi sederhana, saya akan memilih ketiga kata berikut ini sebagai pendekatan saya dalam konsultasi Tarot: Dialog, Kontemplasi, dan Potensi.</p>
	<p>Kembali lagi ke contoh kasus Yvonne di atas, saya sudah berulang kali memberikan briefing seperti itu kepadanya, tapi tetap saja dia memperlakukan Tarot sebagai jalan singkat untuk memuaskan dirinya dan merasa lebih baik. Ada terlalu banyak orang yang pergi ke peramal Tarot atau medium lainnya dengan sikap yang seperti ini. Satu saja komentar saya untuk orang yang seperti itu: mereka akan terus kecanduan untuk datang dan datang lagi setiap kali mengalami masalah. Semakin sering datang ke booth Tarot, semakin mereka kehilangan common sense dan kemampuan berpikir kritis karena mereka meninggalkan kemampuan alamiah mereka untuk berpikir dan mengambil keputusan, menyerahkannya kepada solusi instan sebagaimana dicelotehkan oleh sang Tarot Reader.</p>
	<p>Seharusnya pekerja Tarot Reader bertugas untuk menginisiasi, menginspirasikan klien mereka untuk berpikir lebih jernih, mendorong mereka menjadi lebih waspada akan kecenderungan gejolak psikis yang muncul, menyentil hidung mereka untuk bisa lebih peka mencium bau kesempatan yang datang. Tentunya hal tersebut tidak dapat dilakukan dalam waktu 5-10 menit saja. Saya hanya mau memberikan konsultasi jika klien bersedia meluangkan waktu minimal 30 menit dengan pikiran yang terbuka dan keinginan untuk berdialog demi menemukan jawaban atas masalah yang dia butuhkan. </p>
	<p>Ya Tarot bisa dipakai untuk melirik waktu di masa lalu dan masa depan, tapi tetap saja bukan science. Jika ada seorang pekerja Tarot Reader yang mengaku bisa memberikan bacaan akurat tentang masalahmu dalam waktu lima menit, silakan bakar dia karena itu adalah dusta. Tarot adalah cermin yang kamu pakai untuk mengamati kehidupanmu secara lebih obyektif dan menyeluruh, dan pekerja Tarot Reader selayaknya adalah partner yang mendorong kamu untuk mengakses tingkat kesadaran yang lebih tinggi itu demi mengambil keputusan yang tepat, bukannya mengambilkan keputusan untuk dirimu. Sebut saja kami ini seperti ahli psikologi dengan aliran sekolah jaman klasik.</p>
	<p>Saya tahu ada banyak pekerja Tarot, pewacana Tarot, atau sebutlah apa istilahnya, yang tidak setuju atau bahkan panas membaca apa yang saya tuliskan ini, saya tidak peduli. Sebagian besar pekerja Tarot Reader memang tipe manusia self-delusional yang cenderung mencari bentuk kekaguman untuk memuaskan ego dan pengakuan jati diri mereka dari orang-orang yang datang untuk berkonsultasi kepada mereka. Itu sebabnya ketika sesi konsultasi, kamu akan bisa merasakan bahwa yang menjadi fokus adalah diri mereka -kehebatan, pengalaman mereka, termasuk tebaran tarot yang aneh dan unik- semuanya tentang mereka, padahal seharusnya fokus ada pada diri kamu sebagai klien. </p>
	<p>Setiap pagi saya biasa membuka tebaran Tarot sederhana hanya untuk melihat cerminan inspirasi apa yang bisa saya lakukan di sepanjang hari tersebut. Jika kamu adalah pewacana Tarot dan merasa tersinggung dengan tulisan ini, ketahuilah bahwa pagi ini saya mendapatkan kartu Judgement dan King of Swords yang terbalik. Mungkin itu yang menjelaskan mengapa saya menjadi begitu pedas dan kritis dalam mengutarakan pendapat. Mungkin juga tidak. Saya tidak begitu peduli karena yang penting pembaca kini bisa mengangguk-anggukkan kepala dengan bijaksana dan tentunya lebih diperlengkapi dengan sikap yang benar jika tiba saatnya perlu berkonsultasi dengan seorang pekerja Tarot Reader pilihan mereka. </p>
	<p>Tarot guides, not define&hellip;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mindologist.blogsome.com/2008/01/03/3/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
