Banci Sertifikat
Dengan segitu berjibunnya pelatihan pengembangan diri -mulai dari hipnotisme, NLP, Peak Performance, Timeline, EFT, dsb- yang menawarkan terobosan baru, mereka selalu memberi sejenis sertifikasi dalam barisan umpan-umpan penggiurnya. Mulai dari yang bersifat lokal, nasional, bahkan sampai internasional. Adalah kebanggaan tersendiri ketika bisa melihat nama kita tertera di atas kertas legitimasi seperti itu, lengkap dengan tanda tangan trainer yang bersangkutan.
Tapi berapa banyak orang yang pernah berpikir, "Apakah ini benar-benar berguna bagi keahlian saya? Jika sertifikat itu hilang, rusak, terbakar, dan lembaga pemberi sertifikat itu bubar, apakah itu berarti pengetahuan yang saya pelajari ikut hilang dan bubar?"
Berdasarkan pengamatan, sertifikat seperti itu biasanya tidak lebih dari sekedar jimat peledak ego saja. Sama seperti mahasiwa yang rajin memfotokopi materi kuliah dan seluruh kisi-kisi ujian yang ujung-ujungnya tidak pernah dibaca juga. Istilah mereka, "Ah, asal udah punya, rasanya aman dan bisa."
Sertifikat = Jimat = Ego-boost => Percaya diri
Dalam dunia self development, rasa kepercayaan diri memang selalu menjadi fokus utama. Demikianlah orang berbondong-bondong menjadi trance-buyer untuk segala sesuatu yang menjanjikan sertifikat, tidak peduli harus membayar sangat mahal demi mendapatkannya. Malah untuk beberapa orang, semakin tinggi biaya sebuah pelatihan, semakin kredibel dan bergengsi sertifikat yang akan didapatkan.
Hal itu membawa pada formulasi mengerikan berikut ini:
Sertifikat => Rasa percaya diri => Ilusi kompentensi
Yup, itulah yang dijual oleh kebanyakan training groups. Setiap iklan yang dibuat disusun sedemikian rupa untuk memicu pemikiran konsumen, "Masa sih pelatihan bersertifikat internasional begini ngga bisa bikin saya sangat kompeten menggunakan pengetahuan yang dipelajari? Mereka terlihat mahir, pasti saya juga akan jadi mahir."
Saya tidak akan berdebat, ya Anda pasti akan jadi mahir.
Mahir menipu diri dengan selembar kertas dengan bercak tinta yang mengaku-aku bahwa Anda telah berkompeten di bidangnya.
Tidakkah sertifikat itu malah berasa ejekan bagi intelektualitas Anda? Siapa saja di dunia ini tahu kita tidak bisa instan mahir menguasai sesuatu setelah menyelesaikan pelatihan satu hari, tiga hari, satu minggu, etc. Sertifikat itu kurang lebih berteriak, "Wahai pemilik dan siapapun yang baca sertifikat ini, nama orang yang tertulis di sini sudah menyelesaikan pelatihan. Belum tentu berkualitas sih, makanya dia butuh lisensi seperti ini untuk ngebantu rasa percaya dirinya. Tolong percaya aja ya sama kualitasnya dia, kasihan kan kalo sudah bayar mahal-mahal tapi tetap merasa tidak kompeten."
Menggelikan.
Itu sebabnya bagi saya pribadi, saya percaya pada formula berikut:
Sertifikat = Jaring praktek yang aman = Moral-boost => Rasa tanggung jawab
Berapa banyak pelatihan tersebut yang pernah mengangkat tema tentang hal di atas? Jangankan membahas, menyebut kata ‘moral’ dan ‘tanggung jawab’ saja sepertinya sangat jarang terjadi. Yang penting mereka berhasil membuat Anda MERASA lebih pintar, lebih berpengalaman, dan lebih percaya diri dengan selembar kertas jimat putih bertorehkan nama Anda, apalagi jika bisa memperpanjang nama Anda dengan sebutan gelar-gelar tertentu di belakangnya.
Perhatikan bahwa formula saya di atas sama sekali tidak terhubung dengan kompetensi. Keahlian Anda sama sekali tidak ada hubungannya dengan kertas najis itu! Keahlian Anda selalu berbanding lurus dengan frekuensi dan kreatifitas Anda mengembangkan pengetahuan yang sudah dipelajari. Berhentilah jadi banci sertifikat, Anda akan terlihat seperti anak kecil yang selalu mencari perhatian dan pengakuan atas apapun yang dia lakukan.
Orang dewasa akan berfokus pada kesempatan untuk mempelajari-mempraktekkan pengetahuan sesering mungkin, dan membiarkan urusan mengejar sertifikasi kepada ribuan bocah-bocah yang haus validasi.
