Seni Memperkosa Pemerkosa
Saya sangat menyukai storytelling. Saya senang merasa santai, membawa orang terhanyut ke dalam apa yang ingin saya sampaikan, melepaskan pilihan apakah mereka ingin terhisap masuk ke dalam pusaran pesan yang disampaikan, atau sekedar berselancar ringan di atas riak ombak cerita yang berbuih-buih.
Entah mengapa jika berbicara tentang storytelling, saya langsung terbayang dengan terutama lautan. Padahal sebenarnya saya takut dengan tebaran air yang luas karena tidak tahu caranya berenang dan dibayang-bayangi imajinasi tenggelam masuk ke kedalaman air dimana saya hanya bisa sendirian, sunyi, dan tidak mendengarkan apa-apa selain cahaya sinar yang terbias menembus permukaan air, masuk menerangi pupil saya yang terasa agak sensitif.
Bulatan matahari jadi terlihat jauh sangat besar bila Anda melihatnya dari dalam air di tingkat kedalaman tertentu. Semakin dalam, semakin jauh, semakin membesar. Seolah-olah Anda memakai lup yang didorong menjauh-mendekat dari lensa mata Anda sampai akhirnya bisa mendapatkan satu titik fokus yang tepat. Satu titik penglihatan membuat Anda merasa nyaman memperhatikan apa yang Anda perlu perhatikan, baik ketika memakai lup untuk membaca sesuatu yang kecil tersembunyi atau menggunakan ketenggelaman Anda di dalam air untuk mengamati indahnya bulatan matahari di atas sana.
Lup adalah benda yang sangat berguna, sebagaimana yang saya ceritakan ketika beberapa waktu yang lalu saya mendapat kesempatan menyampaikan sebuah metafora kepada sejumlah sahabat dan rekan yang sedang mendalami NLP. Seperti yang biasa saya lakukan dalam nyaris apa saja dalam hidup ini, saya selalu menantang diri untuk melakukan lebih dari sekedar diminta. Tujuan utamanya adalah untuk melihat seberapa jauh saya bisa meregangkan diri di luar batas-batas normal, disusul dengan sasaran agar audiens mendapatkan sesuatu yang lebih bermakna daripada yang mereka harapkan.
Dini hari sebelumnya, saya menghabiskan waktu cukup lama untuk memikirkan apa yang akan saya presentasikan kepada mereka. Menurut kamus Webster, metafora adalah gaya bahasa berisi cerita narasi dan perumpamaan yang dipakai untuk menyampaikan sebuah nilai moral atau pesan tersendiri. Dengan demikian, NLP menganggap metafor sebagai alat yang sangat berguna untuk menghantarkan pesan yang diinginkan tanpa perlu melalui saringan filter logis yang ketat dari para pendengarnya.
Dari sekian tantangan yang ada, salah satu tantangan terbesar adalah fakta bahwa saya akan memakai salah satu tehnik NLP kepada sekelompok penghuni bumi yang sudah cukup memahami seluk beluk ilmu NLP. Bukan hal yang mudah karena mereka kemungkinan sudah mengetahui nyaris semua cerita, analogi, folklore, dan fabel yang ada di luar sana, karena mereka juga berprofesi sebagai orang-orang bijak, trainer, totem dan vampir di industri human-development.
Itu sebabnya, ini saya seperti hendak memperkosa para pemerkosa. Etiskah menyerang sesama penyerang dengan serangan-serangan yang sudah sering mereka gunakan dalam peperangan?
Saya menyukai berdialog dengan para ekstrimis agama. Mereka selalu merasa dirinya memiliki pengetahuan yang sangat spesial sehingga berani menilai dan menghakimi orang lain berdasarkan interpretasi atas kitab-kitab yang sudah ribuan tahun usianya, bahkan para penulisnya pun mungkin sudah lupa mengapa mereka menuliskan apa yang mereka sudah tuliskan di sana. Setiap kali orang-orang tersebut melemparkan penghakiman berdasarkan ayat-ayat suci, saya langsung terbayang Tuhan menepuk jidat-Nya sendiri dan para nabi-nabi bersumpah serapah karena itu sama sekali bukan maksud mereka.
Itu sebabnya menurut saya ide tentang debat inter-agama (apalagi antar-agama!) adalah sesuatu yang bodoh. Jangankan lawan bicaranya, Tuhan sekalipun jika melangkah dari surga untuk memberikan lup ilahi yang mencerahkan arti sebenarnya dari sebuah paragraf di sebuah kitab, rasanya tidak akan menggetarkan masing-masing pihak. Malah mungkin akan semakin memperkeras karena mereka curiga pihak lawan sedang menggunakan ilmu-ilmu gelap untuk menggelapkan apa yang tidak boleh digelapkan.
Berhenti sekarang, sobat, hindari meneruskan kebodohan tersebut. Kita tidak bisa menyerang penyerang kita dengan alat perang yang mereka gunakan untuk menyerang kita. Itu tidak akan membawa kita kepada apapun selain rasa frustasi karena ketidakmampuan menyarangkan pesan yang ingin disampaikan ke kandang lawan.
Bagaimana caranya seorang bocah jalanan kemaren sore seperti saya dapat menyampaikan sebuah metafor yang efektif untuk menembus seluruh baju zirah besi (berkarat) yang dipakai oleh para pendengar saya? Tentu saja mereka tidak mau terlihat bodoh dengan belajar dari ringkihan kemabukan seekor kuda muda yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka. Bukan saja sudah jauh lebih tua, tapi mereka juga sangat memiliki pengetahuan yang sangat kompeten dibandingkan dengan saya.
Jika saya menyampaikan sebuah metafor yang terlalu cerdas, mereka akan jelas-jelas menolak pesannya karena tidak ingin merasa bodoh sampai harus belajar dari anak kampung. Jika saya menyampaikan sesuatu yang terlalu biasa-biasa, mereka juga akan menolaknya karena merasa sudah sering dengar.
Ketika jam dinding memicingkan matanya di menit keempat-puluh lewat dini hari itu, saya akhirnya menemukan sebuah strategi yang prima. Saya bukan pribadi yang ingin membuat Anda terus tersiksa sepanjang hari memikirkan strategi yang saya temukan setelah membaca semua ini. Saya akan membagikannya dengan jelas sehingga Anda dapat melakukannya persis sebagaimana saya merencanakannya di hari tersebut. Tapi setelah saya pikir-pikir, justru bila dibagikan dengan gamblang seperti inilah Anda akan dihantui mengapa Anda perlu mempraktekkannya dan kapan Anda perlu menciptakan kesempatan untuk memakainya. Silakan melanjutkan, resiko ditanggung sendiri.
Strategi tersebut saya namakan metawhoring, sebuah leksikon baru yang saya ciptakan dari kata ‘meta’ dan ‘whore’. Secara singkat, Anda akan melacurkan segala sesuatu yang Anda ucapkan (verbal) dan lakukan (non-verbal) kepada tujuan yang serba-kontradiktif agar memancing sebanyak mungkin impresi yang berbeda di representasi internal pendengar Anda. Mari gandeng tangan saya sembari kita turun mengamati kesepuluh tips satu per satu.
Sepuluh, tuntun mereka masuk ke state yang Anda inginkan dengan cara lebih dahulu berada di sana. Dalam hal ini, pilihan yang terbaik adalah masuk ke dalam titik state paling rileks, tidak menunjukkan bahwa Anda memiliki apa-apa untuk dibicarakan. Semakin Anda merasa audiens menunggu untuk menyimak (dan membantah dalam hati!) apa yang akan Anda sampaikan, semakin Anda menunjukkan bahwa Anda justru tidak tahu harus menyampaikan apa.
Jangan lakukan tindakan mirroring apapun karena besar kemungkinan justru itulah yang mereka ingin Anda lakukan (agar mereka dapat berkata dalam hati, “Nah, persis saya duga!”). Justru sebaliknya, biarkan bahasa tubuh Anda jatuh dan lepas, tidak mempedulikan benang rapport yang terputus dari audiens. Minimalisasikan gerakan tubuh Anda, biarkan setiap otot tubuh mengendur, dan tarik nafas yang dalam sembari Anda meluncur dengan cepat ke level alfa.
Gunakan channel verbal Anda untuk menceritakan hal-hal yang tidak perlu diceritakan sambil Anda berusaha melakukan pacing pada audiens. Lakukan sesantai mungkin, sekaligus semencurigakan mungkin. Kata kuncinya adalah paradoks. Anda ingin memicu pendengar Anda untuk memutar piringan audio internal mereka sendiri, sembari Anda menuntun mereka langkah demi langkah menuju level alfa yang signifikan. Gunakan visi periferal Anda untuk memperhatikan kapan mereka melakukan TDS, dan bila itu terjadi, lakukan anchoring dengan menarik nafas yang dalam, lalu ulangi setiap kali Anda merasa memerlukannya. Bila Anda melakukannya dengan tepat, maka dalam dua-tiga menit awal itu, Anda akan membuat mereka trance terpaku pada kursi mereka masing-masing.
Sembilan, karena mereka kemungkinan akan menolak apapun konten yang disampaikan, jangan berikan kemewahan tersebut kepada mereka. Mulai presentasi Anda dengan visualisasi konteks (atau staging and delivery) sebanyak mungkin yang sama sekali tidak memiliki isi metafor yang sebenarnya, sehingga satu-satunya konten yang pendengar Anda dapatkan adalah apa yang mereka pikir mereka akan dengar. Dengan kata lain, Anda memberikan basa-basi tentang mengapa Anda memilih mau bercerita apa yang akan Anda ceritakan, dengan menggunakan kalimat yang berbunga-bunga.
Delapan, pancing mereka untuk terbiasa nyaman (baca: trance) dengan kecurigaan mengapa Anda melakukan ini-itu sampai akhirnya yakin (baca: trance lebih dalam lagi!) pada satu kesimpulan bahwa Anda tidak memiliki kompentensi seperti yang mereka harapkan (atau takutkan). Picu resistensi (yang Anda sengaja inginkan) agar mereka cukup disibukkan dan tidak merasa perlu untuk menciptakan resistensi pribadi. Ini adalah titik krusial yang akan memastikan audiens menurunkan filter defensif mereka dari pesan yang ingin Anda sampaikan.
Kerahkan seluruh kemampuan akting Anda untuk menciptakan banyak sekali ketidaksengajaan kecanggungan yang disengaja ketika menceritakan metafor atau pesan yang diinginkan, mulai dari pelafalan yang kurang sempurna, eye accessing cues yang aneh, dan struktur kalimat yang kurang masuk akal, bahkan cenderung mengarah ke sentilan ala Milton Model. Tapi ada dua hal yang wajib Anda jaga dengan baik, yakni tone suara dan bahasa tubuh yang sangat persuasif. Selain kedua hal tersebut, apapun yang memancar dari tubuh Anda harus membuat Anda tampak tidak siap, bingung, dan tidak perlu dianggap serius.
Anda ingin alam sadar pendengar Anda terbebani dengan begitu banyak kemungkinan nested loops, conflicting data and possibilities, sehingga Anda bisa leluasa memperkosa pikiran bawah sadar mereka dengan pesan-pesan yang diinginkan. Bila periode itu sudah hadir, segera ubah gaya presentasi Anda menjadi dua kali lebih persuasif daripada sebelumnya, dua kali lebih penuh animasi, dua kali lebih tajam sorotan tatapan matanya, serta dua kali kali lebih keras volume suaranya.
Tujuh, gunakan gaya bahasa instruktif ketika menyampaikan apa yang seolah-olah kunci yang Anda ingin sampaikan. Prinsip dalam metawhoring adalah Anda ingin melacurkan begitu banyak pesan dan merekamnya di pita memori mereka, bukannya sekedar satu pesan saja. Biarkan mereka merasa Anda ingin mengajarkan pesan (misalnya) nomor enam, padahal Anda ingin mengajarkan alam bawah sadar mereka dengan pesan nomor lima, empat, tiga, dan dua. Bila memang dimungkinkan, pecah menjadi poin-poin atau langkah yang unik. Anda juga dapat menggunakan bahasa asing atau jargon tertentu untuk menciptakan efek impresi yang lebih kuat pada memori audiens.
Ketika presentasi Anda selesai, mereka akan selama bertahun-tahun terus menyimpan rekaman metafor yang Anda sampaikan, bahkan sering menggunakannya untuk keperluan mereka pribadi. Mereka akan merasa seolah-olah mereka sendiri yang menemukan keypoints tersebut, padahal Anda-lah yang sebelumnya telah ‘menarik, melatih, dan menunggangi mereka berulang-ulang.’
Satu, seluruh sistem strategi yang saya kembangkan ini bisa dibilang sangat efektif untuk menghadapi para praktisi NLP karena berangkat dari presuposisi metawhore bahwa “people always cum with solutions.” Ketika berhadapan dengan para NLPer, ijinkan (baca: korbankan) diri Anda untuk terlihat terbatas, lucu, bodoh, atau canggung agar mereka bisa menggembungkan dada ketika merasa sampai pada pelajaran, keypoint, atau insight apapun atas dasar kehebatan mereka sendiri. Berbesarhatilah ketika mereka tidak tidak menaruh kredit apapun kepada Anda maupun metafora asli yang Anda kendarai, karena pada akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan Anda juga puas berhasil memperkosa seluruh otak-otak karatan yang ‘sok pintar dan dewasa itu.’
Tentu saja Anda tidak perlu merepotkan diri menggunakan metawhore jika kebetulan memang audiens Anda masih terasa cukup permisif, bersahabat, atau lebih junior secara usia daripada Anda. Justru metawhoring biasanya kurang efektif dilakukan jika Anda berbicara dengan non-NLPer karena mereka, sama seperti saya, tidak bisa berenang, apalagi menenggelamkan diri dalam lautan dialog internal. Berselancar masih mungkin, karena pelukan hembusan angin di permukaan rasanya mampu mengalahkan rasa takut saya terhadap kedalaman air biru tersebut.
Pernahkah saya bercerita tentang pengalaman ketika speedboat yang saya dan teman-teman naiki mendadak berhenti di tengah lautan tanpa sebab, hanya warna biru sejauh mata memandang, tidak ada satu pulau pun tampak dari arah manapun, dan sekonyong-konyong melihat ombak besar bergulung dengan jarak sekitar 300 meter dari kami?
Ah, simpan saja untuk kesempatan lainnya. Saya tidak ingin Anda terlalu menikmati pemerkosaan ini.
