Seni Memperkosa Pemerkosa
Saya sangat menyukai storytelling. Saya senang merasa santai, membawa orang terhanyut ke dalam apa yang ingin saya sampaikan, melepaskan pilihan apakah mereka ingin terhisap masuk ke dalam pusaran pesan yang disampaikan, atau sekedar berselancar ringan di atas riak ombak cerita yang berbuih-buih.
Entah mengapa jika berbicara tentang storytelling, saya langsung terbayang dengan terutama lautan. Padahal sebenarnya saya takut dengan tebaran air yang luas karena tidak tahu caranya berenang dan dibayang-bayangi imajinasi tenggelam masuk ke kedalaman air dimana saya hanya bisa sendirian, sunyi, dan tidak mendengarkan apa-apa selain cahaya sinar yang terbias menembus permukaan air, masuk menerangi pupil saya yang terasa agak sensitif.
Bulatan matahari jadi terlihat jauh sangat besar bila Anda melihatnya dari dalam air di tingkat kedalaman tertentu. Semakin dalam, semakin jauh, semakin membesar. Seolah-olah Anda memakai lup yang didorong menjauh-mendekat dari lensa mata Anda sampai akhirnya bisa mendapatkan satu titik fokus yang tepat. Satu titik penglihatan membuat Anda merasa nyaman memperhatikan apa yang Anda perlu perhatikan, baik ketika memakai lup untuk membaca sesuatu yang kecil tersembunyi atau menggunakan ketenggelaman Anda di dalam air untuk mengamati indahnya bulatan matahari di atas sana. (more…)
Pagi ini seorang teman bercerita tentang rasa pusing yang menyerangnya tiba-tiba ketika sampai di kantor. Sembari mengobrol dan berusaha membantunya, saya teringat akan sakit migraine yang dahulu sempat rutin mengunjungi kepala setiap bulannya. Jika ada rasa sakit yang paling saya benci di dunia, maka itu adalah Migraine.
Wahai Pria, ayo akui, kita sangat payah dalam hal mendengarkan ketika berurusan curhat one-on-one. Bila seseorang bercerita sesuatu, biasanya kita sibuk memikirkan apa yang ingin kita katakan balik kepadanya. Khususnya ketika pencerita itu seorang wanita, entah mengapa kita otomatis berusaha keras memikirkan celetukan yang paling cerdas dan lucu untuk menarik perhatiannya. Saya mungkin berlebihan, tapi sepertinya kita sering memperlakukan mendengarkan sebagai periode masturbasi ribuan pemikiran sendiri yang diakhiri dengan tumpahan orgasme ketika tiba giliran berbicara.