D-Attack
Ijinkan saya bertanya. Pernahkah Anda tiba-tiba satu hari merasakan dada berdegub dengan dangkal, begitu dangkal hingga muncul perasaan sesak dan tumpul, menarik napas pun terasa enggan setengah mati?
Merasa ada sesuatu yang hilang, atau tidak seharusnya terjadi, atau setidaknya tercecer tidak pada tempatnya, dan tidak mengerti apa yang harus dilakukan.
Juga merasa bodoh karena terhilang dalam pemikiran ketakutan sendiri, tidak bisa konsentrasi menyelesaikan hal yang paling sederhana sekalipun, malah jadi duduk merenung dan mendesah tidak karuan.
Anda pernah terpuruk dengan perasaan merasa seperti itu?
Baik Anda mengangguk cepat semangat atau lambat ragu-ragu mengiyakannya, saya yakin Anda pasti terkenang kembali kondisi yang tidak menyenangkan itu. Bahkan sebagian dari Anda bukan saja terkenang, tapi juga begitu kelamnya perasaan itu hingga saat ini pun ketika membaca bagian ini merasa perasaan itu mebayang-bayangi anda dengan senyumnya yang kering itu.
Saya tidak suka merasa dicengkeram perasaan seperti itu.
Rasanya begitu mandul.
Tidak benar-benar mandul, tentunya, tapi saya yakin Anda mengerti perasaan yang saya maksud.
Itu adalah peristiwa emosi yang yang dinamakan serangan depresi, saya biasa menyebutnya D-Attack. Berbeda dengan depresi klinis, serangan depresi adalah gangguan emosi yang terjadi mendadak dan berjangka waktu sementara. Sama seperti datangnya yang mendadak, ia juga akan pergi dengan cepat tanpa dimengerti juga dalam satu hari, maksimal tiga.
Serangan depresi muncul ketika kita memendam amarah yang ingin meledak karena alasan tertentu, biasanya karena kita takut kehilangan kendali ketika meluapkannya. Atau juga karena tidak menemukan rekan yang tepat untuk berbagi perasaan tersebut.
Rasa marah yang terpendam itulah akhirnya menggembung menjadi bentuk depresi. Uniknya, sekalipun hanya terjadi pada jiwa, namun dapat terasa begitu nyata, misalnya dengan muncul efek beban yang mendadak ditimpakan ke entah bagian mana di tubuh Anda.
Saya biasa merasa tekanan di daerah dada kiri, seolah ada gabus yang mengisi ruang-ruang dada sehingga sulit untuk menarik nafas dalam-dalam. Sebagian orang lain merasa seperti seseorang menekan bagian tengah perut tengah atau pundaknya.
Seorang teman saya menceritakan kejadiannya dengan rasa sesak pada leher karena seutas tali imajiner yang menahannya terikat pada bangunan tertentu. Tekanan tali itu begitu nyata sampai ia kadang perlu benar-benar memijat lehernya seperti hendak melonggarkan ikatan.
Saya tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya perasaan itu. Apapun bentuk fisiologis yang Anda rasakan ketika depresi itu muncul, Anda sudah bergidik ngeri ketika suatu saat merasakan gejala-gejala awalnya.
Tapi tahukah Anda bahwa sama seperti mood yang terganggu itu dapat mempengaruhi fisik, rumus yang sama bisa dilakukan secara terbalik. Para peneliti menemukan bahwa jika kita mengerjakan aktifitas tertentu dengan anggota tubuh, maka serangan depresi itu dapat dikendalikan, bahkan lenyap jauh lebih cepat dari normal.
Sudah banyak penelitian yang mebuktikan bahwa tersenyum, sekalipun itu senyum palsu dan terpaksa, mampu membawa efek rileksasi yang dibutuhkan oleh tubuh.
Apa yang terjadi ketika kita (memaksakan) tersenyum, otot-otot wajah mengingatnya sebagai gerakan yang identik dengan senyum yang sebenarnya dan mengirim kembali data-data tersebut ke otak sebagai perasaan senang atau nyaman.
Ini sepertinya tidak masuk akal, tapi saya selalu berhasil ketika melatih orang lain dan melakukannya sendiri.
Dan bila Anda sudah sukses membuat diri tersenyum, jangan berhenti di sana. Dorong sedikit lagi hingga tertawa dan tertawa. Anda akan merasakan aliran yang seperti menguras rasa sesak itu dimanapun ia menekan tubuh Anda.
Tertawa membuat otot jauh lebih rileks karena Anda pasti menarik nafas lebih banyak sehingga jumlah oksigen dalam tubuh menjadi lebih banyak. Tekanan darah dalam tubuh berangsur-angsur pulih.
Dr. Lee Berk, seorang peneliti di Loma Linda University School of Medicine, menemukan bahwa tertawa dapat meningkatkan jumlah serum T-Lymphocytes yang berguna untuk membuat tubuh terasa lebih segar. Tertawalah banyak-banyak, kuras habis semua spon sesak itu. Ia tidak berguna sama sekali berdiam di sana.
Selanjutnya, busungkan dada dan tegakkan dagu yang layu. Saya menjamin jika Anda membiarkan tubuh terhempas lemas dan menunduk, rasa depresi itu akan terasa berlipat-lipat ganda. Tidak usah jauh-jauh, bahkan sekarang jika Anda menjatuhkan pundak dan punggung ke posisi membungkuk, Anda akan mendapatkan perasaan aneh yang tidak menyenangkan.
Coba ingat-ingat kejadian dimana Anda bersemangat dan seolah-olah dunia berputar mengelilingi Anda. Perhatikan bagaimana postur tubuh Anda saat itu. Pasti tegak dan berjaya seperti Mount Everest yang kokoh itu. Setiap otot menegang namun santai, kaki Anda menapak dengan mantap, dan dagu berdiri tepat pada posisi 45 derajat terhadap dada.
Itulah postur seorang yang tidak memiliki sedikitpun rasa depresi. Jika Anda bisa mengulang sensasi tubuh yang sempurna itu, maka rasa depresi itu juga akan menghilang.
Anda bisa saja mengajukan keberatan, "Ah, ini semua terlalu simplifikasi. Omong kosong. Lagipula, sama saja menyembuhkan dengan menipu diri!"
Ya, saya setuju. Ini semua simplifikasi. Ini semua juga seperti tehnik menipu diri sendiri. Tapi saya bukan sedang berbicara tentang depresi klinis yang memang bisa dianggap sebagai penyakit serius.
Saya berbicara tentang serangan depresi. Gangguan emosi yang selalu membuat otak Anda penuh dengan simplikasi konyol dan negatif. Gangguan emosi yang tidak lain dari menipu diri sendiri dengan hal-hal yang sebenarnya tidak berguna. Gangguan emosi yang menghukum diri sendiri, supaya setelah sembuh dalam satu dua hari dapat merasa menjadi orang yang lebih baik.
Anda pasti mengerti maksud saya. Anda mungkin sedang tersenyum mendapatkan pencerahan ini. Anda akan mengingat baik-baik semua informasi di atas, dan ketika serangan depresi itu muncul, otak Anda akan menayangkan ulang artikel ini dan otomatis melakukannya. Dalam hitungan menit, seluruh pasukan setan depresi itu membubarkan diri dari gua persembunyiannya dalam tubuh Anda.
Saya tidak heran jika kini Anda justru jadi tidak sabar menantikan serangan depresi berikutnya hanya supaya bisa mencoba semua formula ajaib ini dan merasakan khasiatnya yang mengagumkan.
