Mengenai Tarot

Seolah ditubruk oleh gong seukuran truk pemompa air yang biasa menyiram tanaman di sepanjang pinggir jalan protokol, pagi itu saya langsung terbangun oleh dentuman dering HP yang kebetulan terletak tepat di samping telinga saya. Matahari saja baru mengintip seperempat lekuk tubuhnya di ufuk sana, jadi menelpon seseorang pada jam seperti ini seharusnya tergolong tindakan yang ilegal.
“Peter, gue pengen tau masa depan gue! Gebetan HTS’an gue mendadak bilang mo merit bulan depan, tapi ngga pernah bilang ama gue slama ini, stress abis nih jadi pengen liat masa depan gue di kartu Tarot elo!” demikian suara cewek cempreng yang merepet tanpa perlu berhenti menarik napas.
Saya mengurut dada, menghela napas karena entah sudah berapa kali dia mengulangi kejadian seperti ini. Kamu akan mengerti mengapa sebentar lagi, karena sebelumnya saya ingin bercerita tetek bengek latar belakang yang tidak terlalu berguna -seperti biasa dilakukan novelis-novelis besar di luar sana- untuk menambah jumlah halaman dan memenuhi syarat batas karakter dari penerbitnya.
Saya yakin tidak ada orang yang saat ini belum pernah mendengar permainan ramalan dengan kartu Tarot. Bahkan keponakan saya yang berusia 10 tahun saja sudah bisa berceloteh, “Halo, Kakak Peramal Kartu!” sekalipun dia belum tahu namanya adalah Tarot.
Awal perjumpaan saya dengan kartu Tarot bisa ditelusuri sekitar 10 tahun yang lalu. Saat itu saya sedang asyik berkeliling di sebuah toko buku, tidak sengaja menemukan sebuah buku yang kemasan plastiknya sudah tersobek sehingga bisa dibaca isinya. Buku itu menceritakan tentang sejarah Tarot sebagai pengetahuan dan medium yang dipakai oleh kalangan penasihat kerajaan dan orang-orang pintar lainnya untuk melirik hal-hal yang bersifat rahasia dan filosofis, seperti Cinta, Keberuntungan, dan Tujuan Hidup. Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk memutuskan membeli buku tersebut karena penuh dengan semua cerita dan legenda menarik dari jaman kerajaan-kerajaan besar di masa lalu.
Lebih satu dekade berlalu, kini saya secara aktif menggunakan Tarot sebagai medium untuk membantu siapa saja yang ingin menemukan lebih banyak pengungkapan dan inspirasi dalam hidup. Salah satu klien rutin saya adalah teman yang saya ceritakan di atas. Sebut saja namanya Yvonne, cewek usia 24 tahun yang hobi HTS’an dengan banyak cowok dan langganan ‘diputusin’ rata-rata dua bulan sekali.
Alasan saya mengurut dada bukan karena kebiasaan dia yang langsung datang atau menelpon dengan suara parau karena habis menangis semalaman setiap kali mengetahui bahwa dia harus kehilangan HTS’annya. Tapi karena saya harus mengulang entah untuk keberapa belas kali padanya bahwa kartu Tarot bukan medium yang pasti untuk mengetahui nasib dan masa depan. Ada ratusan pekerja Tarot Reader di luar sana, masing-masing memiliki gaya dan pendekatan filosofis tersendiri dalam membacakan tebaran kartunya. Sebagian menganggap tebaran Tarot sebagai kunci meramal nasib di masa lalu dan masa depan, sebagian lagi sebagai dasar untuk mengambil keputusan. Tidak sedikit juga yang menganggapnya sebagai entertainment saja.
Saya juga memiliki pendekatan sendiri, yakni sebagai cermin kehidupan. Semua gambar-gambar yang tertera dalam 78 kartu Tarot tersebut adalah iconografi yang menyimbolkan kesadaran manusia akan dunia yang berputar di sekitarnya. Masing-masing kartu memiliki puluhan interpretasi yang tidak dapat diartikan begitu saja setelah membaca satu dua buku tentang Tarot. Saya sering menganalogikan tebaran Tarot dengan menjalani rutin check-up medis di rumah sakit. Sekalipun sang dokter sudah memegang hasil foto rontgen / X-ray, dia tetap harus melirik pada lembar catatan medis dari sejumlah pemeriksaan lainnya agar dapat memberikan advis yang akurat.
Itu sebabnya bagi saya hanya pewacana Tarot dengan pemahaman yang dalam dan jam terbang tinggi yang dapat mengerti bahwa konsultasi Tarot sama sekali bukan tentang mengetahui nasib di masa depan, tapi tentang dialog mengumpulkan cukup informasi untuk memahami sejumlah potensi dari apa yang sudah, sedang dan akan terjadi dalam kehidupan seseorang. Kalau ingin saya potong jadi sederhana, saya akan memilih ketiga kata berikut ini sebagai pendekatan saya dalam konsultasi Tarot: Dialog, Kontemplasi, dan Potensi.
Kembali lagi ke contoh kasus Yvonne di atas, saya sudah berulang kali memberikan briefing seperti itu kepadanya, tapi tetap saja dia memperlakukan Tarot sebagai jalan singkat untuk memuaskan dirinya dan merasa lebih baik. Ada terlalu banyak orang yang pergi ke peramal Tarot atau medium lainnya dengan sikap yang seperti ini. Satu saja komentar saya untuk orang yang seperti itu: mereka akan terus kecanduan untuk datang dan datang lagi setiap kali mengalami masalah. Semakin sering datang ke booth Tarot, semakin mereka kehilangan common sense dan kemampuan berpikir kritis karena mereka meninggalkan kemampuan alamiah mereka untuk berpikir dan mengambil keputusan, menyerahkannya kepada solusi instan sebagaimana dicelotehkan oleh sang Tarot Reader.
Seharusnya pekerja Tarot Reader bertugas untuk menginisiasi, menginspirasikan klien mereka untuk berpikir lebih jernih, mendorong mereka menjadi lebih waspada akan kecenderungan gejolak psikis yang muncul, menyentil hidung mereka untuk bisa lebih peka mencium bau kesempatan yang datang. Tentunya hal tersebut tidak dapat dilakukan dalam waktu 5-10 menit saja. Saya hanya mau memberikan konsultasi jika klien bersedia meluangkan waktu minimal 30 menit dengan pikiran yang terbuka dan keinginan untuk berdialog demi menemukan jawaban atas masalah yang dia butuhkan.
Ya Tarot bisa dipakai untuk melirik waktu di masa lalu dan masa depan, tapi tetap saja bukan science. Jika ada seorang pekerja Tarot Reader yang mengaku bisa memberikan bacaan akurat tentang masalahmu dalam waktu lima menit, silakan bakar dia karena itu adalah dusta. Tarot adalah cermin yang kamu pakai untuk mengamati kehidupanmu secara lebih obyektif dan menyeluruh, dan pekerja Tarot Reader selayaknya adalah partner yang mendorong kamu untuk mengakses tingkat kesadaran yang lebih tinggi itu demi mengambil keputusan yang tepat, bukannya mengambilkan keputusan untuk dirimu. Sebut saja kami ini seperti ahli psikologi dengan aliran sekolah jaman klasik.
Saya tahu ada banyak pekerja Tarot, pewacana Tarot, atau sebutlah apa istilahnya, yang tidak setuju atau bahkan panas membaca apa yang saya tuliskan ini, saya tidak peduli. Sebagian besar pekerja Tarot Reader memang tipe manusia self-delusional yang cenderung mencari bentuk kekaguman untuk memuaskan ego dan pengakuan jati diri mereka dari orang-orang yang datang untuk berkonsultasi kepada mereka. Itu sebabnya ketika sesi konsultasi, kamu akan bisa merasakan bahwa yang menjadi fokus adalah diri mereka -kehebatan, pengalaman mereka, termasuk tebaran tarot yang aneh dan unik- semuanya tentang mereka, padahal seharusnya fokus ada pada diri kamu sebagai klien.
Setiap pagi saya biasa membuka tebaran Tarot sederhana hanya untuk melihat cerminan inspirasi apa yang bisa saya lakukan di sepanjang hari tersebut. Jika kamu adalah pewacana Tarot dan merasa tersinggung dengan tulisan ini, ketahuilah bahwa pagi ini saya mendapatkan kartu Judgement dan King of Swords yang terbalik. Mungkin itu yang menjelaskan mengapa saya menjadi begitu pedas dan kritis dalam mengutarakan pendapat. Mungkin juga tidak. Saya tidak begitu peduli karena yang penting pembaca kini bisa mengangguk-anggukkan kepala dengan bijaksana dan tentunya lebih diperlengkapi dengan sikap yang benar jika tiba saatnya perlu berkonsultasi dengan seorang pekerja Tarot Reader pilihan mereka.
Tarot guides, not define…
