Mengenai Tarot

Seolah ditubruk oleh gong seukuran truk pemompa air yang biasa menyiram tanaman di sepanjang pinggir jalan protokol, pagi itu saya langsung terbangun oleh dentuman dering HP yang kebetulan terletak tepat di samping telinga saya. Matahari saja baru mengintip seperempat lekuk tubuhnya di ufuk sana, jadi menelpon seseorang pada jam seperti ini seharusnya tergolong tindakan yang ilegal.
“Peter, gue pengen tau masa depan gue! Gebetan HTS’an gue mendadak bilang mo merit bulan depan, tapi ngga pernah bilang ama gue slama ini, stress abis nih jadi pengen liat masa depan gue di kartu Tarot elo!” demikian suara cewek cempreng yang merepet tanpa perlu berhenti menarik napas.
Saya mengurut dada, menghela napas karena entah sudah berapa kali dia mengulangi kejadian seperti ini. Kamu akan mengerti mengapa sebentar lagi, karena sebelumnya saya ingin bercerita tetek bengek latar belakang yang tidak terlalu berguna -seperti biasa dilakukan novelis-novelis besar di luar sana- untuk menambah jumlah halaman dan memenuhi syarat batas karakter dari penerbitnya. (more…)
